Pada
prinsipnya, orang bekerja dengan menggunakan 2 alat yang dikaruniakan
Tuhan; OTAK dan OTOT.
Bekerja dengan otak—artinya bekerja dengan
pikiran—adalah penggunaan alat bekerja yang membutuhkan energi dan
tenaga yang luar biasa meskipun pekerjaan itu tidak tampak dari luar.
Sebaliknya, bekerja dengan otot membutuhkan energi yang tidak terlampau
banyak, karena selain kerja otot itu ada batasnya (otot kita punya
rentang kerja yang terbatas. Produksi
asam laktat tubuh membuat otot akan kelelahan), juga kerja otot itu bergantung pada kekuatan (
power) dan daya tahan (
endurance)
pemiliknya. Kedua jenis kerja, atau pekerja ini, sama-sama dibutuhkan.
Kehidupan tidak akan terselenggaran dengan baik kalau hanya ada pekerja
OTAK, atau hanya pekerja OTOT saja. Keduanya harus selalu ada, bahkan
harus dikombinasikan. Hanyalah posisi bekerja dan besarnya
tanggung-jawab yang membedakan tingkat keperluan pekerja: apakah kita
butuh pekerja OTOT atau pekerja OTAK.
Untuk menjadi Presiden sebuah
Negara—kecil atau besar sekalipun—lebih dibutuhkan pekerja OTAK
ketimbang pekerja OTOT. Presiden pertama Amerika bernama George
Washington, dan presiden RI pertama Ir.Soekarno, bukanlah pekerja OTOT.
Mereka adalah pekerja OTAK.
Socrates,
Plato, Arsitoteles, Thomas Aquinos, Rene Descartes (yang pendapatnya
mengilhami kemajuan teknologi), Gregory Mendel (Pastor penemu teori
Genetika yang menjadi dasar pengobatan modern saat ini), Alexander
Graham Bell (penemu telpon), Wright bersaudara (penemu pesawat), Ford
dan Reynauld (penemu Mobil), adalah contoh2 pekerja OTAK yang mengubah
peradaban. Yang lebih luar biasa lagi: Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Mark Zuckerberg (Facebook), Sergey Brin-Larry Page (Google), Samuel Tomlinson (penemu Email),Berners-Lee (penemu Web.www),
adalah contoh2 luar pekerja OTAK yang mengubah dunia. Para penemu
Informasi-Teknologi itu orang2 yang bekerja di laboratorium saja. Mereka
tidak pergi ke pasar, ke tempat2 ramai, dll. Mereka bekerja dengan ide
yang brilian. Untuk diketahui, peramal masa bernama Alvin Tofler 30
tahun yang lalu sudah meramalkan abad 21 ini adalah INFORMASI, abad
dimana para pekerja OTAK akan menguasai dunia. Di zaman ini, pekerja
OTOT bekerja dalam kendali pekerja OTAK.
Kebutuhan Energi dan Kalori Otak
Menurut
penelitian ilmiah, KERJA OTAK itu jauh lebih berat dari KERJA OTOT.
Sebagai contoh, menghitung hasil perkalian 123x117, menggunakan energi
(gula tubuh) lebih besar dari berjalan kaki sepanjang 1 kilometer.
Untuk diketahui, dalam ilmu kedokteran dikenal ‘triple twenty/20’s’; bahwa
OTAK kita harus menerima 20 persen gula darah, 20 persen oksigen dan 20
persen darah. Kalau darah di tubuh kita ada sekitar 5 liter (5000
mililiter), maka ada sekitar 1000 mililiter yang harus masuk ke otak.
Jika kalorikan, maka otak kita butuh sekitar 1300-1500 kilokalori/hari
dalam keadaan istirahat. Jika ‘triple twenty’ ini berkurang atau
kebutuhan kalori itu tidak tercapai, maka orang akan pingsan, atau susah
berpikir. Jika 1300 kilokalori itu dikonversi ke dalam energi listrik
(Watt), maka hanya akan dihasilkan sekitar 13 watt energi listrik.
Energi ini dapat menyalakan 1 bohlam saja dengan penerangan saat
remang-remang atau temaram. Fakta ilmiah ini membuktikan bahwa meski
pekerja OTAK butuh masukan yang luar biasa, tetapi OTAK mereka bekerja
secara efisien dan hemat. Bandingkan dengan pekerja OTOT yang
berkeringat banyak, kelelahan dan adakalanya ambruk.
Presiden, pemimpin besar dan Ilmuwan itu Pekerja Otak
Ir.Soekarno,
apalagi Drs.Muhammad Hatta, bukanlah pekerja-pekerja OTOT, jikalau
kerja itu dimaksudkan sebagai mengangkat barang, memindahkan kursi,
membantu pengecoran, jalan-jalan, dan bertemu orang dimana-mana, dan
lain-lain jenis kerja yang menggerakan OTOT, sehingga seseorang bisa
lelah, lemah dan berkeringat. Bung Karno itu kerjanya berceramah,
pidato, berdebat dan ‘menjual kata-kata’. Dia melakukan teknik
diplomasi—yang mewajibkan berbicara, berpidato dan ‘menjual
kata-kata’—ketika memperjuangkan kemerdekaan Indonesia; melengkapi
perjuangan bersenjata oleh Jenderal Soedirman dkk. Soekarno pakai jas,
naik mobil, makan tercukupi, berdebat dalam ruangan berpendingin udara
dan memakai sepatu yang disemir. Sebaliknya, jenderal Soedirman diusung
pakai tandu, makan terbatas, bergerilaya di hutan-hutan, dan
sakit-sakitan. Drs.Moehamat hatta seorang ekonom luar biasa juga pekerja
OTAK. Bahkan, hampir seluruh anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berhari-hari berdebat soal dasar
Negara—apakah integralisme, Islamisme, atau yang lainnya—adalah para
pekerja OTAK. Mereka bukan pekerja OTOT, yang berjalan kemana-mana, atau
yang mengangkat barang-barang. Tulisan-tulisan Ir.Soekarno yang
dikumpulkan dalam beberapa buku—antara lain Di bawah Bendera Revolusi—membuktikan bahwa Soekarno menggerakkan bangsa dari manapun ia berada, dengan bekerja memakai OTAK-nya.Pengaruh tulisannya sangat luar biasa dalam kemerdekaan bangsa.
Dr. Anis Baswedan, Rektor Univ Paramadina, juga begitu.
Program Indonesia Mendidik itu hasil dari kerja OTAK, bukan hasil kerja
OTOT. Anies berpikir kerja (kerja OTAK) dan menemukan gagasan brilian
tentang keharusan menyebarkan tenaga terdidik sebagai guru-guru di
daerah terpencil. Sebagai rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan
menggunakan OTAK-nya dengan tepat. Nanti, para mahasiswa, para sarjana
dan para pendidik yang dikirim ke daerah terpencil itu yang kemudian
menerjemahkan pekerjaan OTAK Anies menjadi pekerjaan OTOT.
Para guru itu
pun sebenarnya bekerja dengan OTAK juga. Karena mereka pergi untuk
mengajar. Artinya, mereka pergi untuk memindahkan isi pikiran mereka
kepada orang2 di daerah terpencil. Mereka ini kerjanya berbicara,
mengajar dan mendidikan. Sebagaimana Dr.Anies, mereka berkeyakinan bahwa
hanya dengan mengubah cara berpikir, maka bangsa akan maju. Bisa
dibayangkan bagaimana briliannya gagasan Anies seorang itu jika
diterjemahkan. Jadi, meski Anies Baswedan mengumandangkan ‘kerja dan
kerja’, tetapi yang ia maksudkan sebenarnya adalah melakukan kerja
dengan OTAK-nya.
Prof. Mahfud MD juga begitu. Dengan OTAK-nya yang
cerdas ia memikirkan tentang ketidakbecusan SKK Migas, dan kemudian
mengeluarkan putusan yang luar biasa; membekukan SKK Migas, sehingga
tidak menjadi lahan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Abraham Samad dkk di
KPK juga bekerja dengan OTAK. Mereka menyusun rencana, menentukan
target, dan menyimpulkan, bagaimana memberantas korupsi di Indonesia.
Terbukti, dengan diam-diam, banyak koruptor yang tertangkap.
Abraham
Samad TIDAK pergi ke JALAN-JALAN, MASUK GOT DLL, tetapi ia bersama seluruh komisioner
bekerja dengan OTAK mereka menemukan cara yang paling canggih membasmi
korupsi di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bagaima jika Abraham
Samad bekerja tidak memakai OTAK.
Gus
Dur dan Cak Nur, termasuk disini Goenawan Muhammad (sastrawan-jurnalis
yang hebat) juga bekerja dengan OTAK mereka. Bukan dengan OTOT. Di masa
tuanya, ketika menderita sakit, justeru Gus Dur menjadi Presiden.
Mengapa Gus Dur di dukung? Antara lain sebabnya, Presiden itu bekerja
dengan OTAK. Bukan dengan OTOT. Tidak begitu penting ia lemah secara
fisik. Yang penting OTAK nya masih beres, ia masih bisa berpikir dengan
baik. Banyak gagasan Gus Dur yang luar biasa. Gagasan Cak Nur dan
Goenawan Muhammad juga banyak yang luar biasa. Atau ada contoh yang
lain:
Stephen Hawking; ini ilmuwan Inggris yang luar biasa. Ia bisa
menemukan rahasia alam semesta di balik kursi rodanya yang di dorong
kesana kemari. Berbicara pun tidak biasa. Tapi ia masih berpikir dengan
cerdas sehingga para ilmuwan berusaha menciptakan alat canggih agar
Hawking masih bisa bertahan hidup. Apakah, lalu kita katakan HAWKING
tidak bekerja? Hanya karena ia duduk di kursi roda?
Yang
sangat luar biasa adalah Albert Einstein. Dia bekerja dengan
OTAK-nya—bahkan karena kecerdasan otaknya ini sehingga Nazi mencoba
membunuhnya—sehingga hari ini hidup kita banyak dipermudah oleh
temuan-temuannya. Temuan Einstein yang luar biasa, yang diformulasikan
dalam rumus relativitas (E=MC2), ditemukan dalam olahan
OTAK-nya, bukan dalam laboratorium sebagaimana lazimnya ilmuwan.
Sepanjang hari Einstein hanya berpikir dan menggunakan OTAK-nya. Akibat
OTAK-nya itu ditemukan energy Nuklir, yang selain salah dipakai dalam
Perang Dunia II, tetapi justeru menguntungkan dalam menciptakan
alat-alat listrik bagi kemudahan hidup sehari-hari. Dalam dunia
kedokteran penemuan Penisilin oleh Alexander Flemming, dan hamper
seluruh penemuan Kedokteran, adalah hasil kerja OTAK. Operasi otak yang
canggih tanpa membuka batok kepala, pengeluaran jantung dari tubuh dan
‘diperbaiki’ di luar tubuh, operasi jarak jauh, dan penemuan obat sakit
kepala seperti Aspirin, Antalgin dan Asam Mefenamat, itu semuanya hasil
dari para pekerja OTAK. Bahkan obat kuat pria Viagra-pun adalah hasil
kerja OTAK.
Kesimpulan; Presiden itu pekerja OTAK. Bukan pekerja OTOT.
Hemat
saya, sungguh TIDAK TEPAT pernyataan yang berkembang di masyarakat
bahwa ada capres yang hanya BERBICARA, dan ada capres yang BEKERJA. Dari
sudut ilmiah, politik, hukum dan sosiologis, pernyataan ini SANGAT
KELIRU. Karena kedua capres ini adalah para PEKERJA KERAS. Mereka hanya
berbeda dalam cara mereka bekerja; ada yang mendahulukan kerja OTAK,
lalu OTOT. Sementara ada yang mendahulukan kerja OTOT lalu kerja OTAK.
Pada dasarnya, pilihan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing2.
Namun, pada level Presiden, dibutuhkan seseorang yang bisa bekerja, bisa
memeras (sekuat-kuatnya) OTAK-nya.
Ia punya Menteri yang nanti
menerjemahkan kerja OTAK sang Presiden menjadi kerja OTOT pada level
terbawah dari pemerintahan.
Sungguh suatu hal yang berbahaya jika
seorang Presiden tidak merasa penting BERBICARA (dengan gagah,
menggugah, membangkitkan semangat, menumbuhkan harga diri; persis
seperti ketika Ir.Soekarno berpidato dengan pelbagai bahasa di depan
Sidang Umum PBB untuk menyatakan bahwa Indonesia ini bukan bangsa tempe,
bangsa kuli. Kita bangsa yang punya OTAK) dan tidak merasa penting
bekerja dengan OTAK (BERPIKIR).
Bukankah Presiden itu kerjanya BERPIKIR?
Berpikir bagi kemajuan bangsa, bagi kesejahteraan rakyat dan bagi harga
diri sebuah bangsa yang besar.
Wahai
Capres; ‘kerja, kerja, kerjalah dengan pikiran Brilian kalian”.
Semoga
Prabowo-Hatta, selalu diberikan kekuatan dan
dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa
Aamiin.............
sumber : Taufiq Pasiak
(Pekerja Pikiran, Dosen Ilmu Otak/Neurosains di FK UNSRAT)