Benarkah Kedekatan Abraham Samad Adalah Untuk Selamatkan Jokowi Dari Skandal Korupsi?
Kedekatan Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Abraham Samad dengan partai banteng moncong putih itu disebut-sebut yang membuat kinerja KPK tak lagi ampuh pada sejumlah kasus skandal korupsi yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Joko Widodo (Jokowi).
Setumpuk bukti memperlihatkan bagaimana Samad meramu cantik hubungan romantisnya dengan PDI-P, termasuk dengan para petinggi partai tersebut, sebut saja Jokowi, Tjahyo Kumolo, Puan Maharani, bahkan Megawati Soekarnoputri. Samad juga terbukti menghadiri pertemuan resmi partai yang diselenggarakan PDI-P, bukan cuma sekali, tapi berkali-kali.




Keberadaan Samad jelas sangat berarti bagi di PDI-P. Diantaranya adalah Samad mampu mengamankan Jokowi dari kasus-kasus yang melibat Gubernur DKI Jakarta non aktif itu. Sebut saja kasus bus Transjakarta, Gratifikasi, Monorail, KJS, hingga Waduk Ria Rio. Samad juga disebut-sebut sebagai pahlawan yang sukses mengantarkan Jokowi sebagai Capres dengan nomor urut 2 tanpa sedikitpun ‘tercolek’ skandal korupsi.
Lebih dari sekedar menyelamatkan Jokowi yang diduga terlibat sederet skandal korupsi, kedekatan antara Joko Widodo yang mantan Walkot Solo dan kini tengah menjabat Gubernur DKI dengan Abraham Samad yang duduk sebagai penegak hukum korupsi dapat mencerminkan sebuah asumsi baru di masyarakat, yakni Jokowi akan dinilai publik bersih korupsi, karena logikanya tidak mungkin pemberantas korupsi bisa akrab dengan koruptor. Sungguh sebuah trik cerdas untuk sebuah pencitraan baru bagi Jokowi.


Sebelumnya, banyak tokoh yang berteriak untuk masalah ini. Ribuan mahasiswa pun telah turun ke jalan mendesak KPK mengusut Jokowi, tapi Samad tak peduli. Samad lebih memilih duduk berdekatan dengan Megawati dari pada membersihkan lembaga dan dirinya dari cipratan busuknya ambisius manusia. KPK bisa saja dijual Samad dengan harga-harga yang telah disepakati. Kredibilitas KPK saat ini tidak lagi sementereng dulu, sebelum dikotori oleh napsu nepotisme seorang Abraham Samad.
“Sebaiknya Ketua KPK Abraham Samad fokus menyelesaikan tugas pemberantasan korupsi di Indonesia. Jika selama ini dia berkomunikasi dan bertemu dengan politisi, jelas dia telah mencederai kredibilitas KPK, dan dengan terang benderang melanggar kode etik KPK,” ujar Dahnil Anzar yang juga penggiat anti korupsi di Serang, beberapa waktu lalu.
Samad dan KPK dalam kamuflasenya motto-nya berkata, "Berani Jujur Hebat". Namun ketika kejujuran itu hanya omong kosong dan ketika amanah itu hanya bualan dan dongeng jelang tidur, maka sampai pada titik ini, tak ada lagi yang dapat diharapkan dari Samad yang kini telah terjerembab dengan ambisinya. Sementara kredibilitas KPK telah tergadai oleh napsu syahwat ambisi, uang, dan kekuasan yang hina.


