Strategi Dunia Barat untuk mengadu domba Muslim Sunni & Syiah


Strategi Israel

Menurut situs berita Al-Akhbar (29/01), “ Israel memandang positif atas konflik Sunni-syi’ah di Timur Tengah meski mengkhawatirkan instabilitas di sepanjang perbatasan Israel.”
“Survey Strategis bagi Israel 2013-2014″ yang dipublikasikan oleh Israel’s Institute for National Security Studies ini mendata komponen positif bagi neraca keamanan nasional Israel, diantaranya kesibukan pasukan Syiria dengan perang saudara yang mengakibatkan mereka “melemah secara drastis. Angkatan bersenjata Syiria kehilangan banyak tentara serta sejumlah besar perlengkapan, dan persenjataan kimianya dalam proses dilucuti.”  

Survey tersebut juga mencatat disibukkannya Hizbullah dengan peperangan di Syiria, yang diindikasikan dengan tidak adanya respon atas serangan Israel terhadap pengiriman senjata berkualitas tinggi kepada Hizbullah di Libanon dari Syiria. Hal positif lainnya,  tersebut, adalah kerusakan “signifikan” pada perekonomian Iran yang diakibatkan sanksi dan “manajemen ekonomi yang buruk” di bawah Mahmoud Ahmadinejad. Situasi ekonomi Iran ini menurutnya mempengaruhi kebijakan domestik terkait perkembangan produksi senjata nuklir mereka.

Pada tahun 1982, sebuah dokumen rencana proyek pemecahbelahan yang menyasar sebagian besar negara Arab terungkap. Isi dokumen tersebut demikian berbahaya. Sebagian besar rencana yang dimuat di dalamnya telah terwujud di Irak dan Sudan; sedangkan yang menunggu adalah Mesir, Suriah, Yaman, dan Libya, bila kita tidak mengubah sikap. Dalam laporan organisasi Zionisme internasional yang dimuat majalah Kivunim (14/2/1982) yang dikutip koran Mesir al-Ahram al-Iqtishadi, tersebut skenario persis sebagaimana yang terjadi di Irak saat ini dan diberlakukan terhadap Suriah sejak saat itu.
Laporan tersebut di antaranya menulis: “Irak yang kaya dengan minyaknya merupakan negari(a) yang rawan konflik internal, dan dapat disasar oleh Zionisme. Kehancuran Irak bagi kami lebih penting daripada Suriah. Sebab, dalam jangka dekat Irak adalah ancaman paling berbahaya bagi negeri Ibrani.”
Sedangkan untuk Suriah, laporan tersebut menulis:
Suriah secara mendasar tidak berbeda jauh dengan Libanon yang terdiri dari faksi-faksi yang berbeda, kecuali dari segi pemerintahan junta militer yang berkuasa. Tapi konflik vertikal antara mayoritas Sunni dengan minoritas Syiah-Nushairiyah (12%) yang berkuasa mengindikasikan potensi konflik yang rumit. Memecah Suriah dan Irak berdasar kelompok ras atau agama menjadi negara-negara kecil yang indipenden di masa depan merupakan tujuan jangka pendek Zionisme di kawasan Timur. Suriah kelak akan menjadi negara-negara kecil sesuai dengan komponen ras dan sekte di dalamnya.
Laporan tersebut selanjutnya mencatat rencana terhadap Sudan dan Mesir, sebagaimana perkembangan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini.
Sebelum rencana yang detail tersebut dimuat majalah Kivunim tahun 1982, terbit sebuah buku berjudul Khanjar Israil/Belati Israel (1957) oleh penulis bernama R.K. Karanjia. Buku tersebut memuat dokumen yang dikenal dengan nama Dokumen Karanjia sesuai dengan nama jurnalis India tersebut. Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir saat itu, yang menyerahkan dokumen tersebut kepada Karanjia, setelah bocor atau dibocorkan dari Staf Angkatan Bersenjata Zionis.
Dokumen itu berisi rencana memecah negara-negara Arab pasca Sykes-Picot Agreement. Suriah dibagi kepada negera Druze (sekte, pent.) di daerah selatan, Nushairiyah di Latakia, Sunni di Damaskus dan sekitarnya. Selanjutnya Syiah di Selatan Lebanon, lainnya Maronites, Sunni di wilayah tengah dan utara. Tidak lupa negara merdeka bagi suku Kurdi di Irak, Syiah di selatan, sedangkan Sunni terisolasi di wilayah tengah Irak, Baghdad dan sekitarnya.


Strategi Amerika

Satu tahun setelah invasi AS atas Irak (2003), RAND Corporation, sebuah lembaga think tank di bawah Militer AS pada tahun 2004 merilis sebuah laporan bertajuk “US Strategy in The Muslim World After 9/11,” yang merekomendasikan kepada pemerintah AS untuk memanfaatkan perbedaan ideologis serta pengelompokan yang ada di Dunia Muslim untuk kepentingan dan strategi Amerika Serikat, diantaranya dengan memanfaatkan perbedaan di antara kelompok mayoritas Sunni dengan minoritas Syi’ah. 

Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS . Buku yang berisi wawancara dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dollar untuk melancarkan berbagai aktivitas adu domba Sunni-Syiah. Dr. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah bayang-bayang Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, mereka masih banyak terikat kepada Barat. Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah mengganggu hal tersebut. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai hasil dari penggulingan Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran. 

Harian The New York Time menurunkan laporan, bahwa AS mengucurkan dana sebesar US $ 26 juta sejak tahun 1995-1997 kepada Adnan Buyung Nasution yang merupakan salah seorang tokoh sentral AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yaitu sebuah Aliansi Cair yang menghimpun tidak kurang dari 65 Organisasi, LSM, Kelompok Aliran dan Keagamaan, antara lain : Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), National Integration Movement (NIM), The Wahid Institute, Yayasan Tifa, Kontras, YLBHI, eLSAM, Jaringan Islam Kampus (JIK), Jaringan Islam Liberal (JIL), Yayasan Jurnal Perempuan, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Masyarakat Dialog Antar Agama, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Lembaga Kajian Agama dan Gender, Yayasan Tunas Muda Indonesia, dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia.  (Dalam AKKBB bergabung sederetan tokoh nasional dan aktivis HAM, antara lain : A.Rahman Toleng, A.Syafi'i Ma'arif, Abdul Moqsith Ghozali, Ade Armando, Ahmad Baso, Ahmad Suaedi, Amin Rais, Azyumardi Azra, Bachtiar Effendi, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Eep Saipullah Fatah, Eva Sundari, Fajroel Rahman, Fikri Jufri, Gunawan Muhammad, Gus Dur, Guntur Romli, Hendardi, Husein Muhammad,  Ifdal Kasim, Jefry Geovani, Kautsar Azhari Noer, Luthfi Syakanie, M.Syafo'i Anwar, Musthofa Bisri, Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, Rachland Nashidik, Rizal Mallarangeng, Soleh Hasan Sueb, Syarif Usman, TGH.Subki Sasaki, Todung Mulia Lubis, Ulil Abshar Abdalla, Usman Hamid, Wardah Hafiz, Yenny Wahid, Yudi Latif, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi dan Zuly Qodir).

Dalam laporan resmi "Rand Corporation" disebutkan bahwasanya Departemen Luar Negeri AS dan US Agency for International Development (USAID) telah membuat "kontrak" dengan  The Asia Foundation untuk membangun "Jaringan Muslim Moderat - Liberal" yang Pro Amerika Serikat di seluruh Dunia. Untuk mensukseskan program tersebut, Amerika Serikat telah mengeluarkan uang milyaran dolar. Dana sebesar US $ 700 juta / tahun digelontorkan AS untuk Timur Tengah, sedang untuk Indonesia secara berturut-turut telah digelontorkan dana sebesar US $ 60 juta untuk Th.2004, US $ 78 juta untuk Th.2005, US $ 84 juta untuk Th.2006, US $ 96 juta untuk Th.2007, US $ 143 juta untuk Th.2008 dan US $ 184 juta untuk Th.2009.

Salah satu hasilnya adalah apa yang tertuang dalam Civil Democratic Islam(tahun 2003) dan Building Moderate Muslim Networks (2007).  Laporan dari  Rand Corporation tersebut menjadi referensi penting bagi Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelligent Council/NIC) yang membawahi 15 badan intelijen dari 15 negara, yang diketuai oleh Robert Hutchings.

Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, Rand Corporation memetakan Gerakan Islam sesuai dengan kepentingan Barat, yaitu menjadi empat kelompok: Fundamentalis, Modernis, Liberalis dan Tradisionalis. Rincian setiap kelompok tersebut, diuraikan tentang karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok. Yang pasti, dokumen-dokumen hasil penelitian tersebut sangat subyektif karena memandang sesuatu berdasarkan kepentingan Barat semata.

Rand Corporation kemudian menandai kelompok Islam yang diteliti itu dengan status yang sudah direkayasa. Misalnya, kelompok fundamentalis diberi status “berbahaya” dan penanganannya adalah “habisi”. Sedangkan kelompok Modernis berstatus “aman”, kelompok Liberalis dengan status “sangat aman”, adapun kelompok tradisionalis berstatus “waspada”.

Proyek Lewis dalam rangka memecah negara-negara Islam dan Arab berdasar kepada tiga fondasi, sesuai perspektif AS dan Israel, yaitu perbedaan agama, sekte, dan ras. Lewis juga menuntut untuk mengubah institusi Islam dan Arab tidak lebih sebagai “bangunan yang terbuat dari kertas karton,” yang senantiasa lemah sehingga menjamin eksistensi kekuatan Yahudi.
Sejak dini, proposal Lewis menginginkan agar Irak dibagi menjadi tiga, persis dengan rencana Yahudi yang disinggung sebelumnya. Sedangkan Suriah menjadi empat bagian: Alawiyyin/Nushairiyah, dua bagian buat Sunni, dan sisanya buat Druze. Mesir diproyeksikan untuk menjadi empat bagian: Sina dan timur Delta buat kekuasaan Zionis (dalam rangka Israel Raya), utara Mesir buat Koptik Mesir dengan ibu kota Iskandariyah, selatan buat Nobian dengan pusatnya Aswan, dan sisanya buat kaum Muslim dengan ibu kotanya Kairo.
Dalam proyeksi Lewis, Sudan menjadi empat bagian: selatannya buat kelompok Nasrani dan masyarakat pagan, ujung utara buat Nobian, yang akan terkoneksi dengan Nobian di selatan Mesir; Darfur buat kaum Muslim non-Arab, sedangkan Muslim Arab di bagian tengah.
Adapun Yaman, dia bagi kepada utara dan selatan. Negara-negara Teluk menurut Lewis harus dibagi kepada negara Syiah Arab yang terletak di pantai barat Teluk Arab, yang akan mencakup selatan Irak bila kelak terpisah; utara semenanjung Arab yang digabung dengan Urdun, sebagai negara alternatif bagi bangsa Palestina, rencana yang gigih diperjuangkan oleh Ariel Sharon. Selanjutnya Lewis menginginkan agar manajemen Makkah dan Madinah dipergilirkan, hal yang juga dituntut oleh sekte Rafidhah sejak bertahun lamanya. Adapun jantung Jazirah, maka dibiarkan bagi Sunni Arab, tanpa kekuatan dan potensi kekayaan alam!
Tahun 2006, majalah Angkatan Bersenjata AS edisi Juni mengangkat sebuah artikel oleh Ralph Peters, seorang pensiunan pejabat intelijen AS, yang mengajukan proposal untuk membagi ulang negara-negara Arab dan Islam berdasar ras dan keturunan. Dia membuat peta yang disebutnya “blood borders” yang diajukannya kepada otoritas AS agar dijalankan, sebagaimana Inggris dan Prancis dengan Sykes-Picot Agreement.
Dalam peta yang dibuatnya, Peters mengulang kembali detail proyek pemecahbelahan sebelumnya yang pernah ada, khusus yang terkait dengan negara-negara Arab inti. Tapi dia menambahkan usulan sejumlah negara baru setelah negara lama yang dibubarkan.
Visi Ralph Peters dangkal dan tidak realistis. Akan tetapi dia mengungkapkan, meminjam pernyataan Abdulwahab Musayri, simpul pemikiran di kalangan pemegang kebijakan AS terhadap dunia Islam. Sebab, penulis artikel tersebut adalah seorang kolonel yang dekat dengan pemegang kebijakan di samping posisinya di institusi intelijen. Artikel tersebut juga dimuat di majalah resmi angkatan bersenjata, yang merepresentasikan kebijakan lembaga.
Kelak, proposal Peters terbukti tidak lahir dari ruang hampa. Tepat setelah perang Lebanon berkobar tahun 2006, menlu AS saat itu, Condoleezza Rice segera mengumumkan bahwa peta Timur Tengah sedang direkonstruksi! Rice menduga bahwa perang akan semakin melebar hingga ke kawasan sekitarnya, sehingga proyek tersebut akan berjalan.

Konflik Suriah

Perjalanan panjang revolusi Suriah yang sudah berlangsung selama dua tahun tanpa henti ini mengindikasikan bahwa rezim Assad sejatinya tidak mampu membendung dan menghentikan gelombang revolusi, meskipun berbagai macam cara telah mereka tempuh. Di sisi lain, para pejuang revolusi sampai saat ini belum juga mampu menjatuhkan rezim Assad yang semakin gencar melemahkan kekuatan mereka. Hingga hari ini, revolusi di Suriah masih dihadang banyak hambatan dan tantangan, baik dalam tataran nasional, regional hingga internasional.
Di dalam negeri, rezim Assad terus melancarkan serangan dan kekerasan kepada para demonstran. Dengan sekuat tenaga, ditambah dukungan Iran, China dan Rusia, rezim Assad berusaha menggagalkan segala bentuk aksi demonstran.
Meskipun muslim Syiah di Suriah merupakan komposisi minoritas populasi Suriah, namun karena geostrategis Suriah bersama Iran dan Irak di bawah pemerintahan Alwi al-Maliki, maka rezim Suriah mendapat dukungan penuh dari negara Iran. Kejatuhan rezim Suriah akan berakibat fatal bagi negara-negara Syiah tersebut, dan juga bagi Hizbullah di Lebanon.
Oleh karenanya, Iran mendukung penuh langkah rezim Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Bahkan salah satu anggota Majelis Ahli Iran, Ahmad Jannati dalam khutbah Jumat (24/02) di Teheran menyeru umat Syiah Arab untuk memasuki Suriah dan berjihad bersama pihak Assad.
(Seruan jihad Syiah oleh Ahmad Jannati kemudian direspon oleh seruan jihad dari ulama terkenal umat Islam, Syeikh Yusuf Qaradhawi yang merasa prihatin atas pembantaian minoritas Syiah kepada muslim Sunni di Suriah atas dukungan Iran dan Hizbullah Lebanon. Qaradhawi mengajak seluruh umat Islam untuk berjihad membela saudaranya di Suriah yang sedang menghadapi konspirasi Syiah di bawah rezim Bashar Assad.)
Foto-foto anak-anak Muslim Sunni yg tewas yang beredar saat ini terdapat sebagian foto2 gempa bumi di iraq, dan berbagai macam kecelakaan dan musibah yang sengaja di posting sehingga memancing kemarahan Muslim Sunni terhadap Syiah.
 
Sementara itu, Israel yang merupakan sekutu abadi AS dan berbatasan langsung dengan Suriah sangat menginginkan konflik internal Suriah terus berlangsung. Instabilitas Suriah berarti keamanan bagi Israel. Dengan kondisi ini, Suriah akan disibukkan dengan permasalahan internalnya dari pada konflik berkepanjangan mereka dengan Israel. Pada waktu yang sama, konflik internal Suriah akan melumpuhkan perekonomian dan militer Suriah, bahkan perekonomian Iran yang banyak memberikan bantuan kepada Suriah.
Senada dengan Israel, AS sejatinya tidak menginginkan Suriah menjadi sebuah Negara demokrasi. Meski pada awalnya, AS tampak mendukung revolusi rakyat Suriah, namun sejatinya AS hanya ingin memanfaatkan momentum tersebut sebagai jalan untuk mempertahankan kepentingannya di kawasan, dan mengepung Iran setelah tentara mereka angkat kaki dari Irak. AS melihat, bahwa berdirinya Suriah sebagai sebuah Negara demokrasi akan mengancam kepentingan AS di kawasan. Politik Suriah yang demokratis akan menjadi cerminan keinginan-keinginan rakyat, yang sewaktu-waktu bisa mengancam eksistensi sekutunya, Israel.
Demikian juga dengan Rusia dan China yang tidak ingin kepentingan mereka di Suriah terganggu. Suriah sangat berarti bagi Rusia. Di kota Latakia dan Tartus, Rusia menempatkan basis Angkatan Laut terakhir mereka dan satu-satunya di kawasan. Letak geografis Suriah cukup dekat dengan Rusia, sekaligus bersandingan dengan Turki sebagai salah satu anggota NATO. Rusia tentu tidak menginginkan hegemoni Eropa-AS di kawasan Timur Tengah semakin besar. Rusia juga tidak ingin skenario Libya terulang untuk kedua kalinya.
Sama halnya dengan China, yang kini menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar setelah AS. China tidak ingin pasokan minyak Suriah ke negaranya terganggu, begitu juga dengan hubungan dagang antara kedua negara.
Syiah ( Iran, Rusia, Cina)
Sunni ( USA, Arab Saudi, Perancis) 


Perebutan Pasar Energi
Iran dan Irak punya cadangan gas dan minyak yang bisa menjadi pesaing utama Arab Saudi dan negara-negara teluk. Apalagi Tehran di koridor timur telah mencanangkan proyek pipa gas yang tersambung hingga ke Tiongkok melalui Pakistan dan India. Sementara di koridor barat, bersama Baghdad dan Damaskus, tengah sibuk mempersiapkan pipa migas yang terbentang dari Iran hingga Laut Tengah dan berujung pada daratan Eropa.

Jika semua proyek tersebut menjadi kenyataan, tentu migas Arab Saudi akan semakin terpinggirkan dalam persaingan pasar dunia. Pasalnya, jaringan distribusi migas Iran-Irak menempati posisi strategis yang sulit untuk ditandingi. Sementara Israel tentu tidak ingin, negara2 anti-Tel Aviv menjadi makin kuat.

ISIS dan gerombolannya sengaja dilepas di Irak dan Suriah untuk menggagalkan proyek migas aliansi Iran di koridor barat. Sebagaimana di Pakistan, yang juga terus dikacaukan oleh AlQaeda untuk menghancurkan proyek pipa gas aliansi Iran di koridor timur.

Arab Spring

Semenjak tewasnya mantan penguasa Libya, Moammar Khadafi, yang telah menambah daftar pemimpin Arab yang tersingkir akibat gelombang revolusi. Kejadian ini diawali dari revolusi Tunisia yang memaksa Presiden Zein Abidine Ben Ali lari tunggang langgang ke Arab Saudi. Kejadian serupa menimpa Presiden Mesir Hosni Mubarak yang dipaksa lengser dan kini sedang dalam  proses pengadilan di Kairo. Salah satu isu yang kini terus menjadi sorotan, bahkan menjadi polemik, adalah tentang peran asing, khususnya AS, di balik revolusi Arab itu. Tentu tidak bisa dipungkiri dukungan kuat AS dan Barat  terhadap revolusi Arab. Presiden AS Barack Obama, misalnya, secara tegas meminta Presiden Hosni Mubarak mundur saat revolusi Mesir  dan kini  Obama  juga meminta Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur. Andil AS dalam penumbangan rezim Khadafy di Libya tak kalah besar. AS tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk operasi militer bagi perlindungan warga sipil di Libya. Bahkan, AS mengerahkan pesawat tanpa awak, Predator, untuk memburu pasukan loyalis Khadafi, akibat revolusi ini juga menyisakan kepahitan dan kesedihan karena sudah berapa jiwa yang tewas dalam peristiwa tersebut dan yang masih hangat adalah  revolusi suriah yang hingga kini telah banyak menewaskan nyawa kaum muslimin dan nampaknya Turki akan segera menyusul setelah masyarakat turki menuntut perdana mentri Erdogan yang sekuler mundur dari jabatannya pada (10/6/2013).


Dukungan AS dan Barat terhadap revolusi Arab itu bukan  tanpa pamrih. AS dan Barat yang selama ini dikenal pendukung kuat rezim-rezim diktator Arab tiba-tiba berubah arah. AS dan Barat tampaknya segera menyadari, percuma mempertahankan kapal yang sudah mau tenggelam. Mereka pun segera membonceng gerakan revolusi rakyat, yang dimulai dari Tunisia, diikuti Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah. Tujuannya adalah agar AS dan Barat tidak kehilangan pengaruh di kawasan strategis itu (Timur Tengah). Akan tetapi, banyak analisis di Timur Tengah menyebutkan, perubahan sikap AS dan Barat itu sangat spekulatif, muncul analisis tentang kemungkinan mundurnya peran AS dan Barat di dunia Arab pascarevolusi. AS tampaknya sudah mengantisipasi tentang risiko kemerosotan pengaruhnya di kawasan strategis itu. AS pun kini melakukan pertarungan dengan melobi kekuatan-kekuatan internal di Tunisia, Mesir, dan Libya agar mereka bersedia menjadi bumper bagi kepentingan AS di negara- negara tersebut.Pemilu demokratis inilah yang nantinya bersedia menjalin hubungan istimewa dengan Barat, khususnya AS.  
Berbagai cara dilakukan barat untuk membajak perubahan revolusi timur tengah diantaranya : 
- Memanfaatkan politisi boneka 
- Memberikan hutang
- Melakukan interverensi militer 
- Mempropagandakan islam moderat 
- Mengendalikan media massa untuk opini publik



Kesimpulan

Pergesekan Sunnah dan Syi’ah terjadi bukan karena Syi’ah hadir di Indonesia, Syi’ah bukanlah penyebab tetapi malah sebagai akibat dan korbannya…kekerasan dan konflik terjadi disebabkan karena ketidakmampuan suatu kelompok menerima sebuah keyakinan/mazhab yang berbeda dan ketidakmampuan menerima sikap kritis, obyektif dan ilmiyah yang dianggap akan merugikan kepentingan mereka, dianggap merongrong kemapanan mereka yang selama ini telah mereka nikmati.

Syekh Ahmad Deedat, Kristolog masyhur yang juga seorang ulama Ahlussunnah pernah menyatakan:

“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima ikhwan Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah mereka mengatakan kepada Anda ingin bersatu. Mereka tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. M…ereka berteriak “Tidak ada suni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah belah. Bisakah Anda membayangkan, kita suni adalah 90% dari muslim dunia dan 10%-nya adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka (Syiah) yang seharusnya ketakutan”.

Saudaraku semua!
Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. 

Ulama Sunni terkemuka Iran, Syeikh Mamusta Iqbal Bahmani, Imam Jumat Muchesh menyatakan, persatuan Islam akan mengokohkan kekuatan peradaban Islam dan para politisi negara-negara Islam harus beruapya untuk menghidupkan kembali kebebasan berpendapat, kemuliaan, dan kekuatan umat Islam.
Mehr News (1/12) melaporkan, Bahmani mengatakan, “Umat Islam harus mengutamakan sisi kolektif dan meredupkan segala perbedaan. Umat Islam harus bersatu menghadapi musuh. Persatuan itu tidak berarti seluruh mazhab harus melebur menjadi satu melainkan masing-masing mazhab harus saling menghormati dan tidak saling menistakan.”.

Terkait penilaian musuh bahwa Imam Ali as adalah sumber dari seluruh friksi dalam umat Islam, Syeikh Bahmani mengatakan, “Sahabat Rasulullah Saw yang pertama kali beriman dan menjadi prosos seluruh mazhab Islam adalah Ali as. Musuh bukan hanya tidak meyakini Ali as, melainkan mereka juga tidak menerima Abu Bakar, Umar, Utsman, dan bahkan Rasulullah. Mereka hanya menggunakan tokoh-tokoh Islam itu untuk memecah belah umat Islam.”.

Bahmani mengatakan, “Tidak ada ulama Sunni dalam kitab-kitab maupun khotbahnya yang menistakan keyakinan Syiah dan bahwa penistaan terhadap mazhab manapun pada hakikatnya telah keluar dari agama.”

Semoga Ukhuwah Islamiyah tetap dan terus terjalin………

Aamiin Ya Rabbal Alamin
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

follow

Popular Posts

Exchanger