Strategi Dunia Barat untuk mengadu domba Muslim Sunni & Syiah
Menurut situs berita Al-Akhbar (29/01), “ Israel memandang positif atas konflik Sunni-syi’ah
di Timur Tengah meski mengkhawatirkan instabilitas di sepanjang
perbatasan Israel.”
“Survey Strategis bagi Israel 2013-2014″ yang dipublikasikan oleh Israel’s Institute for National Security Studies ini mendata komponen positif bagi neraca keamanan nasional Israel, diantaranya kesibukan pasukan Syiria dengan perang saudara yang mengakibatkan mereka “melemah secara drastis. Angkatan bersenjata Syiria kehilangan banyak tentara serta sejumlah besar perlengkapan, dan persenjataan kimianya dalam proses dilucuti.”
“Survey Strategis bagi Israel 2013-2014″ yang dipublikasikan oleh Israel’s Institute for National Security Studies ini mendata komponen positif bagi neraca keamanan nasional Israel, diantaranya kesibukan pasukan Syiria dengan perang saudara yang mengakibatkan mereka “melemah secara drastis. Angkatan bersenjata Syiria kehilangan banyak tentara serta sejumlah besar perlengkapan, dan persenjataan kimianya dalam proses dilucuti.”
Survey tersebut juga mencatat disibukkannya Hizbullah
dengan peperangan di Syiria, yang diindikasikan dengan tidak adanya
respon atas serangan Israel terhadap pengiriman senjata berkualitas
tinggi kepada Hizbullah di Libanon dari Syiria. Hal positif lainnya, tersebut, adalah kerusakan “signifikan” pada perekonomian
Iran yang diakibatkan sanksi dan “manajemen ekonomi yang buruk” di
bawah Mahmoud Ahmadinejad. Situasi ekonomi Iran ini menurutnya
mempengaruhi kebijakan domestik terkait perkembangan produksi senjata
nuklir mereka.
Pada tahun 1982, sebuah dokumen rencana proyek pemecahbelahan yang
menyasar sebagian besar negara Arab terungkap. Isi dokumen tersebut
demikian berbahaya. Sebagian besar rencana yang dimuat di dalamnya telah
terwujud di Irak dan Sudan; sedangkan yang menunggu adalah Mesir,
Suriah, Yaman, dan Libya, bila kita tidak mengubah sikap. Dalam laporan
organisasi Zionisme internasional yang dimuat majalah Kivunim
(14/2/1982) yang dikutip koran Mesir al-Ahram al-Iqtishadi, tersebut
skenario persis sebagaimana yang terjadi di Irak saat ini dan
diberlakukan terhadap Suriah sejak saat itu.
Laporan tersebut di antaranya menulis: “Irak yang kaya dengan
minyaknya merupakan negari(a) yang rawan konflik internal, dan dapat
disasar oleh Zionisme. Kehancuran Irak bagi kami lebih penting daripada
Suriah. Sebab, dalam jangka dekat Irak adalah ancaman paling berbahaya
bagi negeri Ibrani.”
Sedangkan untuk Suriah, laporan tersebut menulis:
Suriah secara mendasar tidak berbeda jauh dengan Libanon yang terdiri
dari faksi-faksi yang berbeda, kecuali dari segi pemerintahan junta
militer yang berkuasa. Tapi konflik vertikal antara mayoritas Sunni
dengan minoritas Syiah-Nushairiyah (12%) yang berkuasa mengindikasikan
potensi konflik yang rumit. Memecah Suriah dan Irak berdasar kelompok
ras atau agama menjadi negara-negara kecil yang indipenden di masa depan
merupakan tujuan jangka pendek Zionisme di kawasan Timur. Suriah kelak
akan menjadi negara-negara kecil sesuai dengan komponen ras dan sekte di
dalamnya.
Laporan tersebut selanjutnya mencatat rencana terhadap Sudan dan
Mesir, sebagaimana perkembangan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini.
Sebelum rencana yang detail tersebut dimuat majalah Kivunim tahun
1982, terbit sebuah buku berjudul Khanjar Israil/Belati Israel (1957)
oleh penulis bernama R.K. Karanjia. Buku tersebut memuat dokumen yang
dikenal dengan nama Dokumen Karanjia sesuai dengan nama jurnalis India
tersebut. Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir saat itu, yang menyerahkan
dokumen tersebut kepada Karanjia, setelah bocor atau dibocorkan dari
Staf Angkatan Bersenjata Zionis.
Dokumen itu berisi rencana memecah negara-negara Arab pasca
Sykes-Picot Agreement. Suriah dibagi kepada negera Druze (sekte, pent.)
di daerah selatan, Nushairiyah di Latakia, Sunni di Damaskus dan
sekitarnya. Selanjutnya Syiah di Selatan Lebanon, lainnya Maronites,
Sunni di wilayah tengah dan utara. Tidak lupa negara merdeka bagi suku
Kurdi di Irak, Syiah di selatan, sedangkan Sunni terisolasi di wilayah
tengah Irak, Baghdad dan sekitarnya.
Strategi Amerika
Satu tahun setelah invasi AS atas Irak (2003), RAND Corporation, sebuah
lembaga think tank di bawah Militer AS pada tahun 2004 merilis sebuah
laporan bertajuk “US Strategy in The Muslim World After 9/11,” yang
merekomendasikan kepada pemerintah AS untuk memanfaatkan perbedaan
ideologis serta pengelompokan yang ada di Dunia Muslim untuk kepentingan
dan strategi Amerika Serikat, diantaranya dengan memanfaatkan perbedaan
di antara kelompok mayoritas Sunni dengan minoritas Syi’ah.
Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology”
telah terbit di AS . Buku yang berisi wawancara dengan Dr. Michael
Brant, mantan tangan kanan direktur CIA. Dikatakan bahwa CIA telah
mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dollar untuk melancarkan
berbagai aktivitas adu domba Sunni-Syiah. Dr. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di
bawah bayang-bayang Barat. Meskipun kemudian sebagian besar
negara-negara Islam ini sudah merdeka, mereka masih banyak terikat
kepada Barat. Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah mengganggu hal
tersebut. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai hasil
dari penggulingan Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan
menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru,
sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.
Harian
The New York Time menurunkan laporan, bahwa AS mengucurkan dana
sebesar US $ 26 juta sejak tahun 1995-1997 kepada Adnan Buyung
Nasution yang merupakan salah seorang tokoh sentral AKKBB (Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) yaitu sebuah
Aliansi Cair yang menghimpun tidak kurang dari 65 Organisasi, LSM,
Kelompok Aliran dan Keagamaan, antara lain : Indonesian Conference on
Religion and Peace (ICRP), National Integration Movement (NIM), The
Wahid Institute, Yayasan Tifa, Kontras, YLBHI, eLSAM, Jaringan Islam
Kampus (JIK), Jaringan Islam Liberal (JIL), Yayasan Jurnal Perempuan,
Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Masyarakat Dialog Antar
Agama, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Lembaga Kajian Agama dan
Gender, Yayasan Tunas Muda Indonesia, dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
(Dalam
AKKBB bergabung sederetan tokoh nasional dan aktivis HAM, antara lain
: A.Rahman Toleng, A.Syafi'i Ma'arif, Abdul Moqsith Ghozali, Ade
Armando, Ahmad Baso, Ahmad Suaedi, Amin Rais, Azyumardi Azra,
Bachtiar Effendi, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Eep Saipullah
Fatah, Eva Sundari, Fajroel Rahman, Fikri Jufri, Gunawan Muhammad,
Gus Dur, Guntur Romli, Hendardi, Husein Muhammad, Ifdal Kasim,
Jefry Geovani, Kautsar Azhari Noer, Luthfi Syakanie, M.Syafo'i Anwar,
Musthofa Bisri, Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, Rachland Nashidik,
Rizal Mallarangeng, Soleh Hasan Sueb, Syarif Usman, TGH.Subki Sasaki,
Todung Mulia Lubis, Ulil Abshar Abdalla, Usman Hamid, Wardah Hafiz,
Yenny Wahid, Yudi Latif, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi dan Zuly
Qodir).
Dalam
laporan resmi "Rand Corporation" disebutkan bahwasanya
Departemen Luar Negeri AS dan US Agency for International Development
(USAID) telah membuat "kontrak" dengan The
Asia Foundation untuk membangun
"Jaringan Muslim Moderat - Liberal" yang Pro Amerika
Serikat di seluruh Dunia. Untuk mensukseskan program tersebut,
Amerika Serikat telah mengeluarkan uang milyaran dolar. Dana sebesar
US $ 700 juta / tahun digelontorkan AS untuk Timur Tengah, sedang
untuk Indonesia secara berturut-turut telah digelontorkan dana
sebesar US $ 60 juta untuk Th.2004, US $ 78 juta untuk Th.2005, US $
84 juta untuk Th.2006, US $ 96 juta untuk Th.2007, US $ 143 juta
untuk Th.2008 dan US $ 184 juta untuk Th.2009.
Salah
satu hasilnya adalah apa yang tertuang dalam Civil
Democratic Islam(tahun
2003) dan Building
Moderate Muslim Networks (2007).
Laporan dari Rand
Corporation tersebut
menjadi referensi penting bagi Dewan Intelijen Nasional Amerika
Serikat (National Intelligent Council/NIC) yang membawahi 15 badan
intelijen dari 15 negara, yang diketuai oleh Robert Hutchings.
Dalam
berbagai laporan hasil kajiannya, Rand
Corporation memetakan
Gerakan
Islam sesuai dengan kepentingan Barat, yaitu menjadi empat
kelompok: Fundamentalis, Modernis, Liberalis dan Tradisionalis. Rincian
setiap kelompok tersebut, diuraikan tentang karakter, ciri,
status dan cara penanganan tiap kelompok. Yang pasti, dokumen-dokumen
hasil penelitian tersebut sangat subyektif karena memandang sesuatu
berdasarkan kepentingan Barat semata.
Rand
Corporation kemudian
menandai kelompok Islam yang diteliti itu dengan status yang sudah
direkayasa. Misalnya, kelompok fundamentalis diberi status
“berbahaya” dan penanganannya adalah “habisi”. Sedangkan
kelompok Modernis berstatus “aman”, kelompok Liberalis dengan
status “sangat aman”, adapun kelompok tradisionalis berstatus
“waspada”.
Proyek Lewis dalam rangka memecah negara-negara Islam dan Arab
berdasar kepada tiga fondasi, sesuai perspektif AS dan Israel, yaitu
perbedaan agama, sekte, dan ras. Lewis juga menuntut untuk mengubah
institusi Islam dan Arab tidak lebih sebagai “bangunan yang terbuat dari
kertas karton,” yang senantiasa lemah sehingga menjamin eksistensi
kekuatan Yahudi.
Sejak dini, proposal Lewis menginginkan agar Irak dibagi menjadi
tiga, persis dengan rencana Yahudi yang disinggung sebelumnya. Sedangkan
Suriah menjadi empat bagian: Alawiyyin/Nushairiyah, dua bagian buat
Sunni, dan sisanya buat Druze. Mesir diproyeksikan untuk menjadi empat
bagian: Sina dan timur Delta buat kekuasaan Zionis (dalam rangka Israel
Raya), utara Mesir buat Koptik Mesir dengan ibu kota Iskandariyah,
selatan buat Nobian dengan pusatnya Aswan, dan sisanya buat kaum Muslim
dengan ibu kotanya Kairo.
Dalam proyeksi Lewis, Sudan menjadi empat bagian: selatannya buat
kelompok Nasrani dan masyarakat pagan, ujung utara buat Nobian, yang
akan terkoneksi dengan Nobian di selatan Mesir; Darfur buat kaum Muslim
non-Arab, sedangkan Muslim Arab di bagian tengah.
Adapun Yaman, dia bagi kepada utara dan selatan. Negara-negara Teluk
menurut Lewis harus dibagi kepada negara Syiah Arab yang terletak di
pantai barat Teluk Arab, yang akan mencakup selatan Irak bila kelak
terpisah; utara semenanjung Arab yang digabung dengan Urdun, sebagai
negara alternatif bagi bangsa Palestina, rencana yang gigih
diperjuangkan oleh Ariel Sharon. Selanjutnya Lewis menginginkan agar
manajemen Makkah dan Madinah dipergilirkan, hal yang juga dituntut oleh
sekte Rafidhah sejak bertahun lamanya. Adapun jantung Jazirah, maka
dibiarkan bagi Sunni Arab, tanpa kekuatan dan potensi kekayaan alam!
Tahun 2006, majalah Angkatan Bersenjata AS edisi Juni mengangkat
sebuah artikel oleh Ralph Peters, seorang pensiunan pejabat intelijen
AS, yang mengajukan proposal untuk membagi ulang negara-negara Arab dan
Islam berdasar ras dan keturunan. Dia membuat peta yang disebutnya
“blood borders” yang diajukannya kepada otoritas AS agar dijalankan,
sebagaimana Inggris dan Prancis dengan Sykes-Picot Agreement.
Dalam peta yang dibuatnya, Peters mengulang kembali detail proyek
pemecahbelahan sebelumnya yang pernah ada, khusus yang terkait dengan
negara-negara Arab inti. Tapi dia menambahkan usulan sejumlah negara
baru setelah negara lama yang dibubarkan.
Visi Ralph Peters dangkal dan tidak realistis. Akan tetapi dia
mengungkapkan, meminjam pernyataan Abdulwahab Musayri, simpul pemikiran
di kalangan pemegang kebijakan AS terhadap dunia Islam. Sebab, penulis
artikel tersebut adalah seorang kolonel yang dekat dengan pemegang
kebijakan di samping posisinya di institusi intelijen. Artikel tersebut
juga dimuat di majalah resmi angkatan bersenjata, yang merepresentasikan
kebijakan lembaga.
Kelak, proposal Peters terbukti tidak lahir dari ruang hampa. Tepat
setelah perang Lebanon berkobar tahun 2006, menlu AS saat itu,
Condoleezza Rice segera mengumumkan bahwa peta Timur Tengah sedang
direkonstruksi! Rice menduga bahwa perang akan semakin melebar hingga ke
kawasan sekitarnya, sehingga proyek tersebut akan berjalan.
Konflik Suriah
Perjalanan panjang revolusi Suriah yang sudah berlangsung selama dua
tahun tanpa henti ini mengindikasikan bahwa rezim Assad sejatinya tidak
mampu membendung dan menghentikan gelombang revolusi, meskipun berbagai
macam cara telah mereka tempuh. Di sisi lain, para pejuang revolusi sampai saat ini belum juga mampu
menjatuhkan rezim Assad yang semakin gencar melemahkan kekuatan mereka.
Hingga hari ini, revolusi di Suriah masih dihadang banyak hambatan dan
tantangan, baik dalam tataran nasional, regional hingga internasional.
Di dalam negeri, rezim Assad terus melancarkan serangan dan kekerasan
kepada para demonstran. Dengan sekuat tenaga, ditambah dukungan Iran,
China dan Rusia, rezim Assad berusaha menggagalkan segala bentuk aksi
demonstran.
Meskipun muslim Syiah di Suriah merupakan komposisi minoritas
populasi Suriah, namun karena geostrategis Suriah bersama Iran dan Irak
di bawah pemerintahan Alwi al-Maliki, maka rezim Suriah mendapat
dukungan penuh dari negara Iran. Kejatuhan rezim Suriah akan berakibat
fatal bagi negara-negara Syiah tersebut, dan juga bagi Hizbullah di
Lebanon.
Oleh karenanya, Iran mendukung penuh langkah rezim Assad untuk
mempertahankan kekuasaannya. Bahkan salah satu anggota Majelis Ahli
Iran, Ahmad Jannati dalam khutbah Jumat (24/02) di Teheran menyeru umat
Syiah Arab untuk memasuki Suriah dan berjihad bersama pihak Assad.
(Seruan jihad Syiah oleh Ahmad Jannati kemudian direspon oleh seruan jihad dari ulama terkenal umat Islam, Syeikh Yusuf Qaradhawi yang
merasa prihatin atas pembantaian minoritas Syiah kepada muslim Sunni di
Suriah atas dukungan Iran dan Hizbullah Lebanon. Qaradhawi mengajak
seluruh umat Islam untuk berjihad membela saudaranya di Suriah yang
sedang menghadapi konspirasi Syiah di bawah rezim Bashar Assad.)
Foto-foto anak-anak Muslim Sunni yg tewas yang beredar saat ini terdapat sebagian foto2 gempa bumi di iraq, dan berbagai macam kecelakaan dan musibah yang sengaja di posting sehingga memancing kemarahan Muslim Sunni terhadap Syiah.
Sementara itu, Israel yang merupakan sekutu abadi AS dan berbatasan
langsung dengan Suriah sangat menginginkan konflik internal Suriah terus
berlangsung. Instabilitas Suriah berarti keamanan bagi Israel. Dengan
kondisi ini, Suriah akan disibukkan dengan permasalahan internalnya dari
pada konflik berkepanjangan mereka dengan Israel. Pada waktu yang sama,
konflik internal Suriah akan melumpuhkan perekonomian dan militer
Suriah, bahkan perekonomian Iran yang banyak memberikan bantuan kepada
Suriah.
Senada dengan Israel, AS sejatinya tidak menginginkan Suriah menjadi
sebuah Negara demokrasi. Meski pada awalnya, AS tampak mendukung
revolusi rakyat Suriah, namun sejatinya AS hanya ingin memanfaatkan
momentum tersebut sebagai jalan untuk mempertahankan kepentingannya di
kawasan, dan mengepung Iran setelah tentara mereka angkat kaki dari
Irak. AS melihat, bahwa berdirinya Suriah sebagai sebuah Negara
demokrasi akan mengancam kepentingan AS di kawasan. Politik Suriah yang
demokratis akan menjadi cerminan keinginan-keinginan rakyat, yang
sewaktu-waktu bisa mengancam eksistensi sekutunya, Israel.
Demikian juga dengan Rusia dan China yang tidak ingin kepentingan
mereka di Suriah terganggu. Suriah sangat berarti bagi Rusia. Di kota
Latakia dan Tartus, Rusia menempatkan basis Angkatan Laut terakhir
mereka dan satu-satunya di kawasan. Letak geografis Suriah cukup dekat
dengan Rusia, sekaligus bersandingan dengan Turki sebagai salah satu
anggota NATO. Rusia tentu tidak menginginkan hegemoni Eropa-AS di
kawasan Timur Tengah semakin besar. Rusia juga tidak ingin skenario
Libya terulang untuk kedua kalinya.
Sama halnya dengan China, yang kini menjadi kekuatan ekonomi kedua
terbesar setelah AS. China tidak ingin pasokan minyak Suriah ke
negaranya terganggu, begitu juga dengan hubungan dagang antara kedua
negara.
Syiah ( Iran, Rusia, Cina)
Sunni ( USA, Arab Saudi, Perancis)
Perebutan Pasar Energi
Iran dan Irak punya cadangan gas dan minyak yang bisa
menjadi pesaing utama Arab Saudi dan negara-negara teluk. Apalagi Tehran di
koridor timur telah mencanangkan proyek pipa gas yang tersambung hingga ke
Tiongkok melalui Pakistan dan India. Sementara di koridor barat, bersama
Baghdad dan Damaskus, tengah sibuk mempersiapkan pipa migas yang terbentang
dari Iran hingga Laut Tengah dan berujung pada daratan Eropa.
Jika semua proyek tersebut menjadi kenyataan, tentu migas Arab Saudi akan semakin terpinggirkan dalam persaingan pasar dunia. Pasalnya, jaringan distribusi migas Iran-Irak menempati posisi strategis yang sulit untuk ditandingi. Sementara Israel tentu tidak ingin, negara2 anti-Tel Aviv menjadi makin kuat.
ISIS dan gerombolannya sengaja dilepas di Irak dan Suriah untuk menggagalkan proyek migas aliansi Iran di koridor barat. Sebagaimana di Pakistan, yang juga terus dikacaukan oleh AlQaeda untuk menghancurkan proyek pipa gas aliansi Iran di koridor timur.
Jika semua proyek tersebut menjadi kenyataan, tentu migas Arab Saudi akan semakin terpinggirkan dalam persaingan pasar dunia. Pasalnya, jaringan distribusi migas Iran-Irak menempati posisi strategis yang sulit untuk ditandingi. Sementara Israel tentu tidak ingin, negara2 anti-Tel Aviv menjadi makin kuat.
ISIS dan gerombolannya sengaja dilepas di Irak dan Suriah untuk menggagalkan proyek migas aliansi Iran di koridor barat. Sebagaimana di Pakistan, yang juga terus dikacaukan oleh AlQaeda untuk menghancurkan proyek pipa gas aliansi Iran di koridor timur.
Arab Spring
Semenjak
tewasnya mantan penguasa Libya, Moammar Khadafi, yang telah menambah daftar
pemimpin Arab yang tersingkir akibat gelombang revolusi. Kejadian ini diawali
dari revolusi Tunisia yang memaksa Presiden Zein Abidine Ben Ali lari tunggang
langgang ke Arab Saudi. Kejadian serupa menimpa Presiden Mesir Hosni Mubarak yang
dipaksa lengser dan kini sedang dalam proses pengadilan di Kairo. Salah satu isu
yang kini terus menjadi sorotan, bahkan menjadi polemik, adalah tentang peran
asing, khususnya AS, di balik revolusi Arab itu. Tentu tidak bisa dipungkiri
dukungan kuat AS dan Barat terhadap
revolusi Arab. Presiden AS Barack Obama, misalnya, secara tegas meminta Presiden
Hosni Mubarak mundur saat revolusi Mesir dan kini
Obama juga meminta Presiden Yaman
Ali Abdullah Saleh dan Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur. Andil AS dalam
penumbangan rezim Khadafy di Libya tak kalah besar. AS tergabung dalam Pakta
Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk operasi militer bagi perlindungan warga
sipil di Libya. Bahkan, AS mengerahkan pesawat tanpa awak, Predator, untuk
memburu pasukan loyalis Khadafi, akibat
revolusi ini juga menyisakan kepahitan dan kesedihan karena sudah berapa jiwa
yang tewas dalam peristiwa tersebut dan yang masih hangat adalah revolusi suriah yang hingga kini telah banyak
menewaskan nyawa kaum muslimin dan nampaknya Turki akan segera menyusul setelah
masyarakat turki menuntut perdana mentri Erdogan yang sekuler mundur dari
jabatannya pada (10/6/2013).Dukungan AS dan Barat terhadap revolusi Arab itu bukan tanpa pamrih. AS dan Barat yang selama ini dikenal pendukung kuat rezim-rezim diktator Arab tiba-tiba berubah arah. AS dan Barat tampaknya segera menyadari, percuma mempertahankan kapal yang sudah mau tenggelam. Mereka pun segera membonceng gerakan revolusi rakyat, yang dimulai dari Tunisia, diikuti Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah. Tujuannya adalah agar AS dan Barat tidak kehilangan pengaruh di kawasan strategis itu (Timur Tengah). Akan tetapi, banyak analisis di Timur Tengah menyebutkan, perubahan sikap AS dan Barat itu sangat spekulatif, muncul analisis tentang kemungkinan mundurnya peran AS dan Barat di dunia Arab pascarevolusi. AS tampaknya sudah mengantisipasi tentang risiko kemerosotan pengaruhnya di kawasan strategis itu. AS pun kini melakukan pertarungan dengan melobi kekuatan-kekuatan internal di Tunisia, Mesir, dan Libya agar mereka bersedia menjadi bumper bagi kepentingan AS di negara- negara tersebut.Pemilu demokratis inilah yang nantinya bersedia menjalin hubungan istimewa dengan Barat, khususnya AS.
Berbagai cara
dilakukan barat untuk membajak perubahan revolusi timur tengah diantaranya :
- Memanfaatkan politisi
boneka
- Memberikan hutang
- Melakukan
interverensi militer
- Mempropagandakan
islam moderat
- Mengendalikan media
massa untuk opini publik
Kesimpulan
Pergesekan Sunnah dan Syi’ah terjadi bukan karena Syi’ah hadir di
Indonesia, Syi’ah bukanlah penyebab tetapi malah sebagai akibat dan
korbannya…kekerasan dan konflik terjadi disebabkan karena ketidakmampuan
suatu kelompok menerima sebuah keyakinan/mazhab yang berbeda dan
ketidakmampuan menerima sikap kritis, obyektif dan ilmiyah yang dianggap
akan merugikan kepentingan mereka, dianggap merongrong kemapanan mereka
yang selama ini telah mereka nikmati.
Syekh Ahmad Deedat, Kristolog masyhur yang juga seorang ulama Ahlussunnah pernah menyatakan:
“Saya
katakan kenapa Anda tidak bisa menerima ikhwan Syiah sebagai mazhab
kelima? Hal yang mengherankan adalah mereka mengatakan kepada Anda ingin
bersatu. Mereka tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. M…ereka
berteriak “Tidak ada suni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita
mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap
seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah belah. Bisakah
Anda membayangkan, kita suni adalah 90% dari muslim dunia dan 10%-nya
adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan.
Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka
(Syiah) yang seharusnya ketakutan”.
Saudaraku
semua!Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin.
Ulama Sunni terkemuka Iran, Syeikh Mamusta Iqbal Bahmani, Imam Jumat Muchesh menyatakan, persatuan Islam akan mengokohkan kekuatan peradaban Islam dan para politisi negara-negara Islam harus beruapya untuk menghidupkan kembali kebebasan berpendapat, kemuliaan, dan kekuatan umat Islam.
Mehr News (1/12) melaporkan,
Bahmani mengatakan, “Umat Islam harus mengutamakan sisi kolektif dan
meredupkan segala perbedaan. Umat Islam harus bersatu menghadapi musuh.
Persatuan itu tidak berarti seluruh mazhab harus melebur menjadi satu
melainkan masing-masing mazhab harus saling menghormati dan tidak saling
menistakan.”.
Terkait penilaian musuh bahwa Imam Ali
as adalah sumber dari seluruh friksi dalam umat Islam, Syeikh Bahmani
mengatakan, “Sahabat Rasulullah Saw yang pertama kali beriman dan
menjadi prosos seluruh mazhab Islam adalah Ali as. Musuh bukan hanya
tidak meyakini Ali as, melainkan mereka juga tidak menerima Abu Bakar,
Umar, Utsman, dan bahkan Rasulullah. Mereka hanya menggunakan
tokoh-tokoh Islam itu untuk memecah belah umat Islam.”.
Bahmani
mengatakan, “Tidak ada ulama Sunni dalam kitab-kitab maupun khotbahnya
yang menistakan keyakinan Syiah dan bahwa penistaan terhadap mazhab
manapun pada hakikatnya telah keluar dari agama.”
Semoga Ukhuwah Islamiyah tetap dan terus terjalin………
Aamiin Ya Rabbal Alamin



