Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Ide Tol Laut Jokowi Dimentahkan Pakar Maritim Indonesia

Dalam debat Minggu malam, Calon Presiden Joko Widodo melontarkan ide untuk membangun tol laut. Ide ini sesungguhnya menunjukkan ketidakpahaman Joko Widodo tentang kondisi realitis Indonesia saat ini dan cenderung menggampangkan masalah yang ada, seperti semudah membalik telapak tangan.

Ide tol laut yang diungkapkan Jokowi adalah dengan mengadakan kapal-kapal besar yang berkeliling Indonesia untuk menyamakan harga barang di seluruh Indonesia. Satu contoh yang diungkapkan adalah harga semen di Jawa dan Papua yang sangat berbeda jauh, dimana harga di Jawa per sak Rp.50 ribu sementara di ‎Papua bisa mencapai Rp.1 juta.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI), Dr. Y. Paonganan yang juga pakar maritim Indonesia mengatakan bahwa Jokowi tidak paham konsepsi negara maritim.

Berikut penjelasan Direktur IMI via akun twitternya @ypaonganan :

- Harga semen di papua variatif, di pegunungan mahal krn diangkut pake pesawat, di daerah yg ada pelabuhan besar tdk mahal spt kata si joke.

- Harga semen di Jayapura, Biak, Sorong sktr 75-100 rb/sak, di Wamen, Paniai, Pegunungan Bintang sktr 500-750rb/sak krn diangkut pake pesawat.

- Nah ini..:) @yeni0182: Rp.95000 pak, 50 km dr pelabuhan @ypaonganan: harga semen di papua variatif, di pegunungan mahal krn pake pesawat

- Jadi argumen jokowi ttg harga semen di papua bukti bahwa jokowi kaga ngarti ttg papua, omong kosong saja..:))

- Dari argumen ttg Papua aja sdh ga ngarti, gimana mau menyelesaikan masalah di Papua...Jok...jok..:))

- Jokowi ingin mencitrakan diri bahwa dgn paham Papua berarti paham NKRI, tapi sayang dlm argumentasi harga semen di Papua aja sdh salah..:)

- Kecuali kalo kapal yg si jokowi mau pake itu bisa antar semen hingga ke Puncak Jaya, Wamena, Paniai, Yahokimo, Tolikara dll.. pace jokowi:))

- Jokowi ingin eksploitasi masalah Papua utk pencitraan, sayang dia salah data jadinya ngaco #hargasemen

- Saya tahu kondisi Papua, karena hampir semua Kab disana sy pernah datangi..:)

- Maksa bener :)) "@Reiza_Patters: Ngemengin tol laut trus maksa dikaitkan dgn harga semen jadi murah di papua itu bener. Bener maksa. #uhuk"

- Si jokowi pikir bahwa rakyat Indonesia itu bodoh spt dia makanya asal ngomong... #hargasemenPapua

- Jadi kalo jokowi bcr harga semen di papua, hanya siapkan tol laut itu keliru, siapkan juga tol udara agar harga semen di wamena murah :))

- Bicara harga semen di Papua lalu jokowi hny siapkan TOL LAUT itu keliru sosodara, harus ada TOL UDARA juga utk angkut semen ke Yahokimo :)

- Kenapa TOL UDARA, krn harga semen yg kata jokowi sktr 1Jt an itu diangkut pake PESAWAT UDARA dari Jayapura ke Wamena, Yahukimo dll :))

- Jadi mahalnya semen di wilayah pegunungan Papua tdk akan sama dgn di jawa kalo jokowi tak bangun TOL UDARA...gmn sosodara..? :))

- Sy yakin kalo org Kab Jayawijaya Papua nonton debat, dgr ide tol laut jkw utk turunkan harga semen, akan ngomong "eh pace ko su gila ka" :)

- Kalo orang Yahukimo dengar ide tol laut jkw utk turunkan harga semen, akan ngomong "eh pace, ko pe kapal laut kasih terbang kesini ka"

- Kalo orang Pegunungan Bintang dengar ide tol laut utk turunkan harga semen, akan ngomong "eh mas, ko su makan obat ka" :))

- Kalo orang Paniai nonton debat dengar ide tol laut utk turunkan harga semen di Papua akan ngomong "e pace ko lagi kumur-kumur ka"

- eh pace jokowi, ko jgn suka tipu2 ka, torang jg tau kalo semen di tolikara mahal krn tra ada kapal laut sandar disini, ko tau ka tidak :))

- eh pace jokowi semen di jayapura sini tra mahal, yg mahal itu di pegunungan bintang krn tra ada kapal laut berani sandar disana :))

- eh pace jokowi ko tra tau ka dimana itu Tolikara, itu di gunung sana eee..kapal laut tra bisa sandar pace, baruuu,ko mau jadi presiden? :))

Kepada media, Dr. Y. Paonganan juga menjelaskan lebih rinci kengawuran Jokowi.

"Dengan menggunakan kata 'tol' itu saja sudah kurang tepat, dan secara filosofis tentu keliru. Karena membawa paradigma daratan ke lautan," kritik Doktor lulusan IPB ini kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa, (17/6).

Dijelaskan Y Paonganan, seharusnya yang dilakukan dalam kaitan perspektif maritim adalah membenahi sistem pelayaran dengan membangun infrastruktur laut, membangun industri maritim atau perkapalan yang merata seluruh Indonesia dan membangun sentra-sentra ekonomi di daerah timur agar terjadi pemerataan ekonomi nasional. Sehingga sistem logistik nasional bisa normal dengan biaya murah.

"Sebagai contoh, harga satu pak biskuit seharusnya sama di seluruh Indonesia. Produksi biskuit di Jakarta harus diangkut ke Papua dengan menggunakan kapal laut. Tentu produsen dalam hal menentukan harga juga memperhitungkan biaya distribusinya. Lalu dengan biaya angkut yang mahal tadi, harga barang juga akan naik. Sistem ini yang harus menjadi perhatian utama dalam melihat NKRI dari perspektif maritim," tegas Paonganan yang akrab disapa Ongen.

Menurut Direktur IMI, Jokowi mengambil contoh harga semen yang sangat timpang di Jawa dan Papua pun agak keliru. Semen di Papua yang mencapai harga Rp 1 jutaan itu terdapat di daerah pegunungan karena diangkut dari Jayapura dengan pesawat udara. Jadi tidak ada kaitan dengan transportasi laut. Di Jayapura sendiri, harga semen tidaklah jauh beda dengan harga di Jawa, hanya bekisar 75 ribu/sak, tentu tetap ada perbedaan harga yang signifikan," lanjut Paonganan

Yang membuat biaya angkut kapal laut tinggi, jelas Ongen, khususnya ke wilayah Timur Indonesia dikarenakan kapal dari Jyang mengangkut hasil produksi memperhitungkan biaya pulang pergi. Karena khawatir kembali tidak ada barang yang diangkut. Jadi otomatis biaya jadi double.

"Jika ada kapal besar yang direncanakan Jokowi lalu lalang antar pulau untuk mengangkut komoditas. Lantas yang akan mensubsidi siapa? Emang kapal yang akan dia buat energinya pakai air laut?," kritik Ongen.

Ongen juga menyarankan agar Jokowi jangan bicara konsep dengan istilah bombastis tapi tidak mengerti substansinya. Untuk mencapai cita-citanya itu, Jokowi butuh waktu yang panjang bisa sampai 5 periode presiden. Karena hal itu tidak serta merta.

"Banyak tahapan yang harus dilalui karena bicara maritim tidak bicara parsial tapi komprehensif dan terintegrasi. Jadi sebaiknya Jokowi memahami dulu konsepsi apa itu negara maritim baru bicara seperti itu. Jangan terus membodohi rakyat," paparnya.

Ongen pun menyarankan sebaiknya Jokowi mempelajari kembali peta NKRI baru bicara maritim. Jangan berpikir bahwa NKRI itu hanya seluas Kota Solo atau Jakarta yang cukup dibuatkan bus besar untuk bolak-balik antar lokasi seperti Transjakarta.

"Ngurusin Transjakarta saja tidak bisa, apalagi ngurusin kapal-kapal besar untuk dijadikan tol laut," sergah Ongen.

PT Freeport : Kerugian Negara & Kemiskinan Masyarakat Papua


Tahukah anda bahwa tambang emas terbesar di dunia itu adalah di Grasberg Papua - Indonesia dengan produksi 40.9 ton per tahun ? Jika 1 gram emas = 300 ribu. 1 kilogram = 300 juta. 1 ton = 300 M. 40.9 ton = 12.3 Trliun/ tahun. Itulah produksi "sampingan" PT. Freeport.

Kenapa disebut produksi sampingan PT. Freeport, karena PT. FI produksi utamanya adalah tembaga yang besarnya 18 juta ton. Perak 3400 ton. Kandungan emas terbukti di tambang Grasberg Papua saja (belum termasuk area tambang freeport di area lain di papua) = 1600 Ton. Dengan harga 300 ribu/ gram (harga pasar sudah di atas 400 ribu/gram) didapatkan total = 480 triliun. 50% saja kembali ke Papua, sudah kaya raya.
Jika 480 triliun itu dibagi ke 2.8 juta penduduk Papua. Rata-rata per orang punya kekayaaan = Rp. 171 juta per orang, termasuk bayi yang baru lahir. Itu baru dari emas di 1 (baca : satu) gunung emas di papua dari belasan gunung emas yang dimiliki. Dan hanya baru dari emas saja. Belum lainnya.
 
Dari hasil tembaga di Grasberg saja ( tidak termasuk lainnya) Freeport menghasilkan USD. 178 milyar atau Rp. 1.600 triliun. Jika 1.600 triliun tersebut dibagi rata ke 2.8 juta penduduk papua, masing-masing per orang akan menerima = Rp. 5.715 juta. Hampir 6 milyar/orang. Ditambah produksi perak yang terdapat di area tambang garsberg saja. Total pendapatan freeport adalah USD 298 Milyar atau Rp. 2.682 triliun.
 
Jika Rp. 2.682 triliun hasil kekayaan emas, tembaga dan perak yang di grasberg papua itu saja dibagi 2.8 juta penduduk = Rp. 9.8 milyar !! Penduduk papua punya pendapatan perkapita Rp. 9.8 M selama 47 tahun atau rata2 ICP = Rp. 208 juta per tahun. Hanya dari Grasberg !!
 
Tapi tahukah anda berapa royalti yang dibayar Freeport dan seluruh usaha tambang mineral di Indonesia? Hanya Rp. 12 Triliun / tahun. Contoh : tahun 2007, pendapatan yang dilaporkan Freeport USD 5.13 Milyar. Pajak yang dibayar hanya USD. 1.3 milyar dan royalti USD 133 juta. Berapa keuntungan PT. Freeport tahun 2007 itu setelah dipotong pajak dan royalti ? USD 3.234 juta atau Rp. 29 triliun !!!!
 
Adalah negara di dunia ini yang "sebodoh" Pemerintah Indonesia? Dimana-mana hasil tambang itu lebih 50% nya dinikmati negara, bukan kontraktor ! Bagaimana bisa diterima akal sehat, pada tahun 2007 negara terima pendapatan total hanya 13 Triliun sedangkan PT Freeport untung bersih 29 Triliun? Total pendapatan PT. Freeport 2004-08 = USD 17.893 milyar atau Rp. 161 triliun. Total utk RI = USD 4.481 milyar atau Rp. 40 Triliun.
 
Hebatkan? Freeport untung bersih Rp. 121 triliun kurun waktu 2004-08, penerimaan negara hanya 40 triliun dari laba kotor Rp. 161 Triliun. Sebegai bentuk sedekah, PT. freeport keluarkan 1% untuk rakyat Papua. Selama kurun waktu 2004-8 rakyat Papua mendapat 1% atau Rp. 1.61 Triliun.
 
Apakah negara kita pernah audit berapa sebenarnya kandungan emas, tembaga, perak dan lain-lain yang ada dikonsesi tambang Freeport? Tidak pernah. Padahal luas tambang Grassberg itu hanya seperlima dari luas tambang Freeport yang 2.6 juta ha atau 6% dari luas papua.
 
Jika kita punya presiden yang mau nasionalisasi tambang Freeport kayak venezuela atau bolivia, Indonesia tidak perlu mengemis-mengemis cari utang ke Bank Dunia. Saya kaget ketika wamen ESDM bilang pajak batubara kita hanya 25% dan royalti max 6%. Total 31%. Negara rugi, kontraktor kaya raya.
 
Bagaimana bisa, batubara yang lebih gampang exploitasinya dikenakan royalti dan pajak bagian negara yang lebih rendah dibandingkan migas? Edan ! Harusnya batubara dan tambang mineral lainnya juga diperlakukan seperti migas. 70-80% bagian untuk negara, 20-30% untuk kontraktor.
 
Semua elemen bangsa, utamanya DPR harus berani desak pemerintah realisasikan Pasal 33 UUD kita. Sudah saatnya kita berhenti jadi bangsa pengemis. Tahukah anda sebagian besar galian tambang di Freeport itu tidak diolah di Papua tapi tanahnya langsung dikapalkan dan dikirim ke luar negeri? Dulu Bakrie dapat 10% saham divestasi Papua tapi setahun kemudian dijual lagi dengan harga berlipat-lipat. 
 
Kita tidak bisa harapkan renegosiasi kontrak tambang-tambang kita pada SBY. SBY sudah akui AS sebagai negara keduanya. Dia tidak peduli dengan nasib rakyat Indonesia.
 
Apakah Jakarta/Freeport pernah peduli dengan Papua? Apakah ada SD, SMP, SMA, PT terbaik dibangun di Papua? Tidak. Supaya rakyat Papua tetap bodoh. 
 
Apakah Jakarta/Freeport ada pembangunan jalan lintas Papua? Tidak ada. Supaya akses ke tambang-tambang kekayaan alam itu tidak bisa ditembus publik.China menawarkan pembangunan jalan trans papua gratis kepada Indonesia. Indonesia menolak karena AS tidak setuju.
 
Adalah Rumah sakit terbaik dibangun di Papua? Tidak ! Rakyat Papua tidak pernah mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. Infrastruktur publik di Papua paling buruk di seluruh Indonesia. Disengaja demikian agar papua tidak bisa maju. Rakyatnya tak boleh pintar.
 
Rakyat Papua yang mau mendapatkan sekolah dan pelayanan kesehatan terbaik harus ke Jawa. Sekolah di UGM atau berobat di Jakarta/Surabaya. Padahal Papua adalah daerah yang tingkat penyebaran aids nya tertinggi di Indonesia.. kenapa bisa akarta tidak peduli? Sengaja ? Jakarta menyuap Papua dengan membikin kaya dan membikin mabok elit Papua. Membiarkan korupsi gila-gilaan oleh pejabat-pejabat Papua. Rakyatnya menderita. Papua punya semuanya : emas, tembaga, migas, perak, uranium, hutan, laut yang kaya ikan, bahkan batubara. Kemana itu semua?
 
China dengan cadangan devisanya terbesar didunia dan membutuhkan pekerjaan/investasi telah sukses bangun infrasturktur gratis di Afrika. Indonesia menolak. Sama halnya ketika Malaysia menawarkan jembatan semananjung Malaka - Sumatera gratis ke Indonesia. SBY menolak. Takut.
 
Saya pernah berkunjung ke HPH PT. Irmasulindo di Papua. Kalo tidak salah dapat konsensi 390.000 ha. Kayu-kayu Papua ditebang, dijual. Setelah kayu-kayu hutan habis ditebang, lahan ditanami kelapa sawit. Benar-benar kekayaan alam yzng luar biasa. Apakah ada untuk rakyat Papua? Hutan di Papua menurut karyawan PT. Irmasulindo lebih gampang ditebang daripada hutan di Sumatera. Geografinya lebih mudah. Kayak ATM bank. 
 
Saya pernah ketemu dengan karyawan Freport warga asli Papua. Tamatan Australia. Dia tidak bisa jadi direksi. Jabatan GM mentok. Lalu dia datang ke Jjakarta beserta beberapa orang tokoh Papua. Menginap di hotel sentral pramuka. Mau ketemu Fredy Numberi, dan SBY. Mereka mau menuntut ada warga asli Papua jadi direksi di Freeport. Ujung-ujungnya dia ditawari uang USD 2 juta dan diancam. Disuruh pulang. Yang memfasilitasi karyawan freeport yang mau nuntut tersebut jadi direksi FI itu adalah Henky Luntungan dan Subur Budisantoso, elit PD. Gagal.
 
Saya baca hasil riset Marwan Batubara tentang Papua dan Freeport. Mau menangis melihat negara ini dirampok oleh elitnya sendiri.
 
Sumber: @TrioMacan
 
 
AYO PILIH PRESIDEN YANG MEMPERJUANGKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
 
MENYELIDIKI KEBOCORAN ANGGARAN DAN KEKAYAAN INDONESIA
 
KEPUTUSAN DAN MASA DEPAN BANGSA INI ADA DITANGAN ANDA

JANGANLAH KITA MENJADI PENGEMIS DI NEGARA SENDIRI.

JADIKAN INDONESIA MENJADI MACAN ASIA......

APAKAH PRESIDEN ITU MENGGUNAKAN OTAK ATAU OTOT???

Pada prinsipnya, orang bekerja dengan menggunakan 2 alat yang dikaruniakan Tuhan; OTAK dan OTOT.

Bekerja dengan otak—artinya bekerja dengan pikiran—adalah penggunaan alat bekerja yang membutuhkan energi dan tenaga yang luar biasa meskipun pekerjaan itu tidak tampak dari luar. Sebaliknya, bekerja dengan otot membutuhkan energi yang tidak terlampau banyak, karena selain kerja otot itu ada batasnya (otot kita punya rentang kerja yang terbatas. Produksi asam laktat tubuh membuat otot akan kelelahan), juga kerja otot itu bergantung pada kekuatan (power) dan daya tahan (endurance) pemiliknya. Kedua jenis kerja, atau pekerja ini, sama-sama dibutuhkan. Kehidupan tidak akan terselenggaran dengan baik kalau hanya ada pekerja OTAK, atau hanya pekerja OTOT saja. Keduanya harus selalu ada, bahkan harus dikombinasikan. Hanyalah posisi bekerja dan besarnya tanggung-jawab yang membedakan tingkat keperluan pekerja: apakah kita butuh pekerja OTOT atau pekerja OTAK. 

Untuk menjadi Presiden sebuah Negara—kecil atau besar sekalipun—lebih dibutuhkan pekerja OTAK ketimbang pekerja OTOT. Presiden pertama Amerika bernama George Washington, dan presiden RI pertama Ir.Soekarno, bukanlah pekerja OTOT. Mereka adalah pekerja OTAK.

Socrates, Plato, Arsitoteles, Thomas Aquinos, Rene Descartes (yang pendapatnya mengilhami kemajuan teknologi), Gregory Mendel (Pastor penemu teori Genetika yang menjadi dasar pengobatan modern saat ini),  Alexander Graham Bell (penemu telpon), Wright bersaudara (penemu pesawat), Ford dan Reynauld (penemu Mobil), adalah contoh2 pekerja OTAK yang mengubah peradaban.  Yang lebih luar biasa lagi: Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Mark Zuckerberg (Facebook), Sergey Brin-Larry Page (Google), Samuel Tomlinson (penemu Email),Berners-Lee (penemu Web.www), adalah contoh2 luar pekerja OTAK yang mengubah dunia. Para penemu Informasi-Teknologi itu orang2 yang bekerja di laboratorium saja. Mereka tidak pergi ke pasar, ke tempat2 ramai, dll. Mereka bekerja dengan ide yang brilian. Untuk diketahui, peramal masa bernama Alvin Tofler 30 tahun yang lalu sudah meramalkan abad 21 ini adalah INFORMASI, abad dimana para pekerja OTAK akan menguasai dunia.  Di zaman ini, pekerja OTOT bekerja dalam kendali pekerja OTAK.

Kebutuhan Energi dan Kalori Otak
Menurut penelitian ilmiah, KERJA OTAK itu jauh lebih berat dari KERJA OTOT. Sebagai contoh, menghitung hasil perkalian 123x117, menggunakan energi (gula tubuh)  lebih besar dari berjalan kaki sepanjang 1 kilometer.  Untuk diketahui, dalam ilmu kedokteran dikenal ‘triple twenty/20’s’; bahwa OTAK kita harus menerima 20 persen gula darah, 20 persen oksigen dan 20 persen darah. Kalau darah di tubuh kita ada sekitar 5 liter (5000 mililiter), maka ada sekitar 1000 mililiter yang harus masuk ke otak. Jika kalorikan, maka otak kita butuh  sekitar 1300-1500 kilokalori/hari dalam keadaan istirahat.  Jika ‘triple twenty’ ini berkurang atau kebutuhan kalori itu tidak tercapai, maka orang akan pingsan, atau susah berpikir.  Jika 1300 kilokalori itu dikonversi ke dalam energi listrik (Watt), maka hanya akan dihasilkan sekitar 13 watt energi listrik. Energi ini dapat menyalakan 1 bohlam saja dengan penerangan saat remang-remang atau temaram. Fakta ilmiah ini membuktikan bahwa meski pekerja OTAK butuh masukan yang luar biasa, tetapi OTAK mereka bekerja secara efisien dan hemat. Bandingkan dengan pekerja OTOT yang berkeringat banyak, kelelahan dan adakalanya ambruk.
Presiden, pemimpin besar dan Ilmuwan itu Pekerja Otak
Ir.Soekarno, apalagi Drs.Muhammad Hatta, bukanlah pekerja-pekerja OTOT, jikalau kerja itu dimaksudkan sebagai mengangkat barang, memindahkan kursi, membantu pengecoran, jalan-jalan, dan bertemu orang dimana-mana, dan lain-lain jenis kerja yang menggerakan OTOT, sehingga seseorang bisa lelah, lemah dan berkeringat. Bung Karno itu kerjanya berceramah, pidato, berdebat dan ‘menjual kata-kata’. Dia melakukan teknik diplomasi—yang mewajibkan berbicara, berpidato dan ‘menjual kata-kata’—ketika memperjuangkan kemerdekaan Indonesia; melengkapi perjuangan bersenjata oleh Jenderal Soedirman dkk. Soekarno pakai jas, naik mobil, makan tercukupi, berdebat dalam ruangan berpendingin udara dan memakai sepatu yang disemir. Sebaliknya, jenderal Soedirman diusung pakai tandu, makan terbatas, bergerilaya di hutan-hutan, dan sakit-sakitan. Drs.Moehamat hatta seorang ekonom luar biasa juga pekerja OTAK. Bahkan, hampir seluruh anggota Badan Penyelidik  Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berhari-hari berdebat soal dasar Negara—apakah integralisme, Islamisme, atau yang lainnya—adalah para pekerja OTAK. Mereka bukan pekerja OTOT, yang berjalan kemana-mana, atau yang mengangkat barang-barang. Tulisan-tulisan Ir.Soekarno yang dikumpulkan dalam beberapa buku—antara lain Di bawah Bendera Revolusi—membuktikan bahwa Soekarno menggerakkan bangsa dari manapun ia berada, dengan bekerja memakai OTAK-nya.Pengaruh tulisannya sangat luar biasa dalam kemerdekaan bangsa.

Dr. Anis Baswedan, Rektor Univ Paramadina, juga begitu. Program Indonesia Mendidik itu hasil dari kerja OTAK, bukan hasil kerja OTOT. Anies berpikir kerja (kerja OTAK) dan menemukan gagasan brilian tentang keharusan menyebarkan tenaga terdidik sebagai guru-guru di daerah terpencil. Sebagai rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan menggunakan OTAK-nya dengan tepat. Nanti, para mahasiswa, para sarjana dan para pendidik yang dikirim ke daerah terpencil itu yang kemudian menerjemahkan pekerjaan OTAK Anies menjadi pekerjaan OTOT.
Para guru itu pun sebenarnya bekerja dengan OTAK juga. Karena mereka pergi untuk mengajar. Artinya, mereka pergi untuk memindahkan isi pikiran mereka kepada orang2 di daerah terpencil. Mereka ini kerjanya berbicara, mengajar dan mendidikan. Sebagaimana Dr.Anies, mereka berkeyakinan bahwa hanya dengan mengubah cara berpikir, maka bangsa akan maju. Bisa dibayangkan bagaimana briliannya gagasan Anies seorang itu jika diterjemahkan. Jadi, meski Anies Baswedan mengumandangkan ‘kerja dan kerja’, tetapi yang ia maksudkan sebenarnya adalah melakukan kerja dengan OTAK-nya. 

Prof. Mahfud MD juga begitu. Dengan OTAK-nya yang cerdas ia memikirkan tentang ketidakbecusan SKK Migas, dan kemudian mengeluarkan putusan yang luar biasa; membekukan SKK Migas, sehingga tidak menjadi lahan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Abraham Samad dkk di KPK juga bekerja dengan OTAK. Mereka menyusun rencana, menentukan target, dan menyimpulkan, bagaimana memberantas korupsi di Indonesia. Terbukti, dengan diam-diam, banyak koruptor yang tertangkap.

Abraham Samad TIDAK pergi ke JALAN-JALAN, MASUK GOT DLL, tetapi ia bersama seluruh komisioner bekerja dengan OTAK mereka menemukan cara yang paling canggih membasmi korupsi di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan bagaima jika Abraham Samad bekerja tidak memakai OTAK.
Gus Dur dan Cak Nur, termasuk disini Goenawan Muhammad (sastrawan-jurnalis yang hebat) juga bekerja dengan OTAK mereka. Bukan dengan OTOT. Di masa tuanya, ketika menderita sakit, justeru Gus Dur menjadi Presiden. Mengapa Gus Dur di dukung? Antara lain sebabnya, Presiden itu bekerja dengan OTAK. Bukan dengan OTOT. Tidak begitu penting ia lemah secara fisik. Yang penting OTAK nya masih beres, ia masih bisa berpikir dengan baik. Banyak gagasan Gus Dur yang luar biasa. Gagasan Cak Nur dan Goenawan Muhammad juga banyak yang luar biasa. Atau ada contoh yang lain: 
Stephen Hawking; ini ilmuwan Inggris yang luar biasa. Ia bisa menemukan rahasia alam semesta di balik kursi rodanya yang di dorong kesana kemari. Berbicara pun tidak biasa. Tapi ia masih berpikir dengan cerdas sehingga para ilmuwan berusaha menciptakan alat canggih agar Hawking masih bisa bertahan hidup. Apakah, lalu kita katakan HAWKING tidak bekerja? Hanya karena ia duduk di kursi roda?
Yang sangat luar biasa adalah Albert Einstein. Dia bekerja dengan OTAK-nya—bahkan karena kecerdasan otaknya ini sehingga Nazi mencoba membunuhnya—sehingga hari ini hidup kita banyak dipermudah oleh temuan-temuannya. Temuan Einstein yang luar biasa, yang diformulasikan dalam rumus relativitas (E=MC2), ditemukan dalam olahan OTAK-nya, bukan dalam laboratorium sebagaimana lazimnya ilmuwan. Sepanjang hari Einstein hanya berpikir dan menggunakan OTAK-nya. Akibat OTAK-nya itu ditemukan energy Nuklir, yang selain salah dipakai dalam Perang Dunia II, tetapi justeru menguntungkan dalam menciptakan alat-alat listrik bagi kemudahan hidup sehari-hari.   Dalam dunia kedokteran penemuan Penisilin oleh Alexander Flemming, dan hamper seluruh penemuan Kedokteran, adalah hasil kerja OTAK.  Operasi otak yang canggih tanpa membuka batok kepala, pengeluaran jantung dari tubuh dan ‘diperbaiki’ di luar tubuh, operasi jarak jauh, dan penemuan obat sakit kepala seperti Aspirin, Antalgin dan Asam Mefenamat, itu semuanya hasil dari para pekerja OTAK. Bahkan obat kuat pria Viagra-pun adalah hasil kerja OTAK. 

Kesimpulan; Presiden itu pekerja OTAK. Bukan pekerja OTOT.

Hemat saya, sungguh TIDAK TEPAT pernyataan yang berkembang di masyarakat bahwa ada capres yang hanya BERBICARA, dan ada capres yang BEKERJA. Dari sudut ilmiah, politik, hukum dan sosiologis, pernyataan ini SANGAT KELIRU. Karena kedua capres ini adalah para PEKERJA KERAS. Mereka hanya berbeda dalam cara mereka bekerja; ada yang mendahulukan kerja OTAK, lalu OTOT. Sementara ada yang mendahulukan kerja OTOT lalu kerja OTAK.
Pada dasarnya, pilihan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing2. 

Namun, pada level Presiden, dibutuhkan seseorang yang bisa bekerja, bisa memeras (sekuat-kuatnya) OTAK-nya.
Ia punya Menteri yang nanti menerjemahkan kerja OTAK sang Presiden menjadi kerja OTOT pada level terbawah dari pemerintahan. 

Sungguh suatu hal yang berbahaya jika seorang Presiden tidak merasa penting BERBICARA (dengan gagah, menggugah, membangkitkan semangat, menumbuhkan harga diri; persis seperti ketika Ir.Soekarno berpidato dengan pelbagai bahasa di depan Sidang Umum PBB untuk menyatakan bahwa Indonesia ini bukan bangsa tempe, bangsa kuli. Kita bangsa yang punya OTAK) dan tidak merasa penting bekerja dengan OTAK (BERPIKIR). 
Bukankah Presiden itu kerjanya BERPIKIR? Berpikir bagi kemajuan bangsa, bagi kesejahteraan rakyat dan bagi harga diri sebuah bangsa yang besar. 

Wahai Capres; ‘kerja, kerja, kerjalah dengan pikiran Brilian kalian”.  
Semoga Prabowo-Hatta, selalu diberikan kekuatan dan dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa
Aamiin.............

sumber : Taufiq Pasiak
(Pekerja Pikiran, Dosen Ilmu Otak/Neurosains di FK UNSRAT)

HAI WANITA.... INI PATUT DIRENUNGKAN


Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf

Seorang Doktor Muslimah berjilbab diwawancarai wartawan asing

Wartawan Asing : Pakaian Anda itu tidak mencerminkan pengetahuan anda sebagai seorang dokter. Kami berkesimpulan Jilbab itu simbol keterbelakangan dan kemunduran.

Dokter : Manusia di masa awal hampir telanjang, Bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan mulai mengenakan busana. Apa yang saya kenakan hari ini sebenarnya adalah lambang kecanggihan dan kemajuan berpikir. Yang telah dicapai manusia berabad-abad lamanya.
Adapun ketelanjangan yang ada sekarang adalah simbol keterbelakangan dan kembalinya manusia kepada kejahiliaan Seandainya ketelanjangan itu simbol kemajuan maka bisa dikatakan para binatang itu telah mencapai puncak peradaban.
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf

Wartawan Asing : ........Keringetan dan kabur!!!

Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
SUBHANALLAH............

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th).. (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).

Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah? Beliau rbersabda: Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkäl, lalu ia bertanya lagi: Bagaimana bila masih terbuka kakinya? Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata:“Hadits hasan shahih”).


Silahkan berkomentar dgn santun
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf
Alquran surat An-Nur ayat 31 disebutkan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

//Waqul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wayahfazhna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa maa zhahara minhaa walyadhribna bikhumurihinna 'ala juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna ilaa libu'uulatihinna au aabaa-ihinna au aabaa-i bu'uulatihinna au abnaa-ihinna au abnaa-i bu'uulatihinna au ikhwaanihinna au banii ikhwaanihinna au banii akhawaatihinna au nisaa-ihinna au maa malakat aimaanuhunna awittaabi'iina ghairi uulii-irbati minarrijaali awith-thiflil-ladziina lam yazhharuu 'ala 'auraatinnisaa-i walaa yadhribna biarjulihinna liyu'lama maa yukhfiina min ziinatihinna watuubuu ilallahi jamii'an ai-yuhaal mu'minuuna la'allakum tuflihuun(a)//

Arti: "Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan …." (QS. An-Nur : 31)

Adapun hadits yang menceritakan tentang kewajiban berhijab adalah sebagai berikut.
Aisyah (Ummul Mu’minin) pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.:

سألت النبي كيف يصنع النساء بذيولهن ( أسفل الثياب ) قال : يرخينه شبرا، قالت : إذا تنكشف أقدامهن، قال : يرخينه ذراعا لا يزدن عليه. متفق عليه

“Apa yang harus diperbuat wanita dengan bawah baju mereka? Nabi menjawab: Hendaklah ia turunkan satu jengkal ( dari mata kaki ). Ummul Mu’minin bertanya (lagi),“kalau begitu akan tersingkap kaki kami, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Turunkan satu lengan dan jangan dilebihkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). - See more at: http://www.alquran-syaamil.com/2013/06/dalil-tentang-berhijab-dalam-alquran-dan-alhadits.html#sthash.3lDRLldX.dpuf

follow

Popular Posts

Exchanger