Mungkin janji SBY untuk menggunakan akun twitternya sebagai media yang lebih mendekatkan diri kepada rakyat sedikit tercermin dengan beberapa twit yang membahas Tasripin. Siapa dia?
Tasripin adalah anak 12 tahun dari Banyumas yang terpaksa putus sekolah dan bekerja keras demi menghidupi ketiga adiknya.
Reaksi sang presiden diperlihatkan melalui 3 twit yang berisi kepedulian dan rencananya mengatasi nasib Tasripin dengan mengutus staf khusus bersama gubernur Jawa Tengah.
Barangkali juga untuk membuktikan kepeduliannya, SBY sampai
meng-upload foto dirinya yang sedang ‘merespon informasi masyarakat
mengenai Tasripin’.
Tasripin merupakan anak malang yang terpaksa jadi buruh tani setelah
ibunya meninggal dan ayahnya harus bekerja merantau di Kalimantan.
Akibat tekanan ekonomi, anak ini terpaksa putus sekolah dan merawat 3
adiknya di rumah.
Dilansir dari Kompas, keempat anak malang ini juga mendapat kiriman
uang dari ayahnya untuk membayar biaya listrik dan beberapa kebutuhan
genting.
Meskipun sudah berhenti dari SDN Sambirata 3, dia ternyata masih
terlilit hutang sebesar 100 ribu rupiah untuk biaya sekolah. Sementara
itu, kedua adiknya juga terpaksa tidak sekolah karena sering dihina
teman-teman mereka.
Tasripin dan adik-adiknya
Sebagai buruh tani, Tasripin harus berangkat pagi-pagi ke sawah dan
pulang pada tengah hari. Rutinitas tersebut diselingi dengan keseharian
rumah tangga seperti memasak, mencuci dan merawat adik-adiknya.
Mereka pun hanya menempati rumah papan berukuran 5×6. Dengan alas
karpet plastik di atas dipan, Tasripin, Dandi (7), Riyanti (6) dan Daryo
(4) melewati malam-malam dingin dengan selimut sarung.
Menu makanan ketiga anak ini bahkan sangat sederhana. Seringnya hanya
menyantap nasi ditaburi garam. Menurut Tasripin, jika ada rejeki
berlebih, mereka bisa menyantap mie instan.
Kegigihan Tasripin yang mengasuh adik-adiknya sekaligus bekerja
menopang rumah tangga mereka ternyata telah merenggut perhatian sang
presiden di twitter. Entah bagaimana kelanjutan dari reaksi twitter SBY
tersebut akan diterapkan, kasus Tasripin membuktikan bahwa pemerataan
kesejahteraan di negeri ini masih jauh panggang dari api.